oleh

Penting Diketahui, Ini Bahaya Sampah Elektronik Terhadap Lingkungan

TANGERANG-Sama dengan sampah jenis lainnya, sampah elektronik atau e-waste juga kerap dibuang begitu saja oleh masyarakat. Padahal sampah elektronik sangat berbahaya bagi lingkungan.

Merkuri, timah, kadmium, lithium, dan kromium yang terkandung di sampah elektronik dapat merusak sistem pembuluh darah, sampai sistem syaraf otak. Terlebih saat ini maraknya penggunaan barang elektronik seperti handphone, komputer, laptop dan lain-lain menyisakan persoalan tersendiri berupa sampah.

Laporan dari Global E-Waste Monitor 2020, Benua Asia adalah penyumbang terbesar sampah elektronik, jumlahnya sekitar 25 juta ton dalam setahun. Di Indonesia, dalam laporan Global E-Waste Monitor di 2017, penduduk Indonesia menyumbang 1,274 juta ton pada 2016. Di seluruh dunia hanya 20 persen sampah elektronik yang dapat didaur ulang.

Kondisi di Indonesia, sampah elektronik tergolong Bahan Beracun Berbahaya (B3). Pengelolaannya masih diurus oleh sektor informal dan jumlahnya tidak banyak. Sampah elektronik di Indonesia kebanyakan masih dibakar atau ditimbun.

Padahal tidak boleh ditimbun, karena bisa terurai ke tanah sehingga dapat meracuni air tanah, tanaman, dan juga berdampak pada hewan ternak yang makan dari tanah yang sudah terdampak racun.

Pada 2019 lalu, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel dua lokasi di Desa Tegal Angus, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Alasannya, karena membakar sampah elektronik di ruang terbuka.

Edukasi dan kampanye terkait betapa bahayanya sampah elektronik juga kurang. Dinas Lingkungan Hidup di tiap daerah seharusnya lebih menyediakan tempat sampah khusus sampah elektronik.

Dilansir dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), permasalahan sampah elektronik banyak dihasilkan oleh industri rumahan dan tempat reparasi elektronik di daerah. Akibatnya, industri kecil di daerah sulit untuk memperoleh izin pengelolaan sampah elektronik ke pemerintah pusat di Jakarta.

Direktur dari ICEL, Henri Subagyo merekomendasikan izin pengelolaan sampah B3 ada di setiap pemerintah daerah, dan untuk pengelolaan sampah skala besar dilakukan di Jakarta.

Dia juga menyarakan pemerintah dan produsen sampah harus melakukan pembinaan terkait pengelolaan dan pemanfaatan sampah elektronik.(mg3/yudisthira)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya