oleh

Pengelola Mall Teko Minta Kepastian Relaksasi Pemkot Tangsel

SERPONG – Dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh seluruh sektor yang ada di Indonesia. Tidak terkecuali sektor retail atau mal, departement store, dan lainnya. Dari sekian banyak sektor, retail menjadi salah satu sektor yang merasakan kerugian paling signifikan.

Internal Consultant dan GM Mall Teras Kota (Teko) BSD, Eko Soekotjo menjelaskan, bahwa terdapat 350 pusat perbelanjaan di Indonesia, di mana sekitar 250 mal berada di Jawa dan Bali. Dari data yang pernah disampaikan oleh Ketua APPBI kerugian akibat dampak Covid-19 sampai angka Rp 5,4 triliun per bulan.

”Untuk Jawa dan Bali mencapai Rp 3,4 rriliun, belum persoalan karyawan dirumahkan, tenant-tenant yang gulung tikar atau lainnya. Hal ini juga sangat berdampak dengan perekonomian daerah dan juga isu sosial masyarakat. Sebagai contoh PAD (Pendapatan Asli Daerah, red) di Tangsel menurun tajam,” ujar Eko, Jumat (30/7/2021).

Dia menambahkan, kerugian hingga triliunan itu juga akhirnya memberikan dampak kepada seluruh karyawan yang berkerja bersama mereka. Sehingga, diharapnya adanya solusi agar dapat meminimalisir dampak finansial pelaku bisnis pusat perbelanjaan dan dampak sosial masyarakat sekitarnya.

Atas dasar situasi ini, Pengelola Mall Teko melakukan komunikasi dan koordinasi dengan regulator dalam hal ini Pemkot Tangsel yang kemarin diwakili oleh Dinas Pariwisata (Dispar) dan Dinas Industri dan Perdagangan (Indag), untuk melakukan terobosan-terobosan atau strategi pengelolaan mal pada masa pemberlakuan PPKM Level 4.

”Kami harus berani mengambil langkah-langkah konkret dan terobosan- terobosan untuk meminimalisir terpuruknya perekonomian sektoral, bagaimana pun juga mal atau pusat perbelanjaan memberikan kontribusi kepada pemda di mana mal itu beroperasi terutama pajak dan lainnya,” ujar Eko.

Situasi ini membuat pihak pengelola mal membutuhkan kepastian terkait kebijakan apalagi yang akan diberlakukan oleh pemerintah jika pergerakan laju kasus Covid-19 ini tidak cenderung menurun. Apalagi dampak pandemi ini sudah dirasakan sejak akhir Maret 2020.

”Artinya sudah 19 bulan kami berjuang untuk tetap bisa bertahan secara finansial dan saat ini adalah klimaksnya di mana jika tidak ada kepastian buka operasional dan relaksasi dari regulator berpotensi bisnis mal akan tutup karena bangkrut,” katanya.

Mengingat sisa waktu yang sangat singkat, karena 2 Agustus 2021 batas pemberlakuan PPKM Level 4. Dirinya mewakili pengelola mal di Kota Tangsel merekomendasikan pada 3 Agustus 2021 mal bisa buka dengan menerapkan sistem pengawasan dan monitoring terpadu untuk traffic pengunjung dan pemberlakuan self assessment pengunjung secara manual sambil paralel menunggu dukungan aplikasi tracking and tracing dari pemerintah. Data traffic pengunjung akan dimonitor secara realtime atau online oleh regulator.

Strategi tersebut sudah disampaikan kepada Pemkot Tangsel yang diwakili oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Industri dan Perdagangan dalam pertemuan bersama Rabu (28/7/2021) lalu di Hotel Santika.

Sementara untuk memastikan pelacakan, penelusuran dan pembatasan pengunjung mal, sebagai contoh setiap pengunjung akan scan QR untuk mengetahui sudah vaksin belum atau connecting penyelenggara test antigen dan PCR untuk mengetahui status tes pengunjung, serta traffic untuk
mengetahui jumlah pengunjung dan batasan jumlah yang disepakati bersama.

“Untuk tracking dan tracing tentunya menjadi domain pemerintah untuk mendukung aplikasi yang dibutuhkan seperti Peduli Lindungi, Trace Together atau aplikasi lainnya , sementara untuk traffic menjadi domain kami untuk menyediakannya,” pungkas Eko.(irm/rie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya