Kasus Diare Akut di Serpong Lagoon, Warga Keluhkan Air Kotor Hingga Temukan Cacing & Jentik
Hasil Laboratorium Nyatakan Air Mengandung E.Coli
SETU- Fenomena diare akut yang menjangkit ratusan warga di Perumahan Serpong Lagoon, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), akhirnya kini terungkap. Air yang tercemar dan jauh dari kata layak menjadi penyebab utamanya.
Hal itu terungkap saat warga mencurahkan keluhannya dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Tangsel, Rabu (14/10). Selain warga dan para legislator, sejumlah perwakilan organisasi perangkat daerah seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan (Dinkes), dan kewilayahan juga turut hadir. Namun amat disayangkan, pihak pengembang dan perusahaan pengelola air tak muncul dalam pertemuan penting tersebut.
Pada kesempatan itu, warga Serpong Lagoon yang diwakili oleh Arnis Silvia menyampaikan sejumlah keluhannya di hadapan wakil rakyat. Ia memulainya dari pertama kali fenomena ini mulai dirasakan. Hingga penyakit diare akut ini mulai merebak dan menjangkit ratusan warga.
"Awalnya satu ibu menceritakan anaknya ada gejala seperti muntaber dan ternyata pada banyak yang nyahut gitu. Dikira kan anaknya salah makan nih awalnya cuma gejala yang terpisah gitu. Nah begitu sudah berbarengan, banyak ibu-ibu yang juga anak-anaknya mengalami gejala yang sama dengan yang tadi yang pertama tadi menceritakan, akhirnya ada ibu yang berinisiatif untuk membuat Google Form. Nah dalam beberapa hari itu langsung jadi 100 lebih itu teman-teman dan itu masih bertambah sampai per hari ini pun," ujar Arnis kepada awak media.
Gejala yang dialami, kata Arnis, meliputi muntah-muntah, diare, hingga demam. Penyakit ini dirasakan oleh semua kalangan usia, namun terbanyak dialami oleh anak kecil.
"Muntah, diare dan demam untuk anak-anak itu, banyak bayi juga, Makanya kita kaget. Bayi yang paling muda 11 bulan ada, yang opname. Jadi gejalanya sama muntaber jadi dia muntah-muntah, diare, dan demam. Bahkan dehidrasi jadi mau diinfus saja sudah sulit. Datanya saya tidak hafal, tapi total itu kalau dari persentase lebih dari 50 persen adalah balita, termasuk bayi," paparnya.
Dari samanya kasus, lantas warga mencoba menganalisa dari beberapa kemungkinan yang ada. Hingga mengerucut pada dugaan tercemarnya air yang selama ini digunakan.
Selama bertahun-tahun, warga Serpong Lagoon menggunakan air yang didistribusikan oleh perusahaan melalui instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP).
"Kalau di Lagoon itu air yang dialirkan ke rumah warga itu hanya satu provider, jadi dia itu monopoli," imbuhnya.
Dugaan itu, kata Arnis, dinyatakan bukan tanpa alasan. Sejak bertahun-tahun silam, warga sudah terbiasa menjumpai air yang keruh, dan secara kasat mata sudah bisa disimpulkan jika air itu tidak layak.

Bahkan parahnya lagi, di beberapa rumah warga terdapat cacing darah hingga jentik yang keluar dari air hasil olahan tersebut. Hasil dokumentasi yang menunjukkan adanya cacing dan jentik, serta contoh air yang keruh itu pun ditunjukkan dan menjadi bukti yang mereka sampaikan di momen RDP tersebut.
"Itu kondisi air yang sudah di rumah warga. Jadi kebayang itu sudah diolah pun ya dari WTP tapi bentuknya seperti itu teman-teman. Jadi sangat amat tidak layaklah gitu. Keruh, berbau. Jadi kalau kita pakai hidupin keran mau mandi gitu ya, kayak bau comberan. Terus kalau kita tampung di ember, enggak lama dia berlendir," terangnya.
Fenomena ini pun menjadi tamparan keras bagi pihak pengelola air dan pengembang perumahan, sekaligus momentum warga untuk protes. Pasalnya selama ini, Arnis menyebut bahwa warga sudah seringkali melayangkan komplain. Namun, tak ada langkah kongkret dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
"Kalau namanya komunikasi kita tuh sebagai warga rutin sekali komplain ya. Kita selalu komplain melalui RT atau RW kita, tapi ya mereka minta maaf berjanji memperbaiki, segitu aja, enggak pernah ada ini (tindakan)," katanya.
Para warga pun berharap besar, agar kasus ini bisa mendapatkan perhatian lebih agar segera diselesaikan, serta mendapat solusi permanen asal permasalahan ini.
"Ya mudah-mudahan dengan apa ya ini menjadi berkah ya, karena kalau tidak ada seperti ini mungkin kasusnya hanya tentang air kotor, gitu. Tapi kalau seperti ini kan sudah akar masalahnya jadi kelihatan, mulai dari perizinan, kemudian mulai dari standar baku, kemudian dari pengelolaan dan seterusnya," harapnya.
Sementara di lokasi yang sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel, Fitria Oriza menyampaikan hasil laboratorium air di perumahan tersebut.
"Dari hasil pemeriksaan, hampir semua sampel air yang diuji menunjukkan hasil positif mengandung bakteri E. coli sehingga dinyatakan tidak layak konsumsi. Total ada tiga sampel yang diuji, yang terdiri dari satu sampel dari reservoir WTP, dan dua sampel dari keran rumah warga. Seluruh sampel tersebut dinyatakan positif E. coli," paparnya.
Menurut Fitri, kandungan E.Coli pada air khususnya jika dikonsumsi dapat menimbulkan penyakit serius, terutama diare. Jika tidak segera mendapat tindakan, maka bisa menimbulkan akibat yang lebih fatal.
"Kontaminasi bakteri E. coli yang diduga berasal dari pencemaran kotoran akibat pengolahan air yang tidak sesuai standar menyebabkan warga mengalami diare. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko menyebabkan dehidrasi, karena kekurangan cairan. Terutama sangat berbahaya bagi anak-anak. Kalau diare tidak tertangani bisa mengancam nyawa," kata Fitri.

Atas hal itu, Dinkes mengimbau agar seluruh warga Perumahan Serpong Lagoon untuk menghindari penggunaan air yang bersumber dari WTP. Ia menyarankan untuk menggunakan air kemasan, terutama untuk konsumsi.
"Warga diimbau untuk menyetop total penggunaan air dari WTP tersebut. Untuk kebutuhan minum, warga diminta menggunakan air kemasan. Sementara itu, jika terpaksa harus menggunakan air untuk kebutuhan lain seperti mencuci piring atau sikat gigi, air tersebut wajib direbus hingga mendidih (100 derajat Celsius)," imbaunya.
Sementara di sisi lain, ia memastikan seluruh warga yang terjangkit diare telah mendapat penanganan intensif.
"Sebagian besar korban sudah tertangani, ada yang sudah sembuh dan sebagian masih dalam proses pemulihan. Penanganan dilakukan dengan menerjunkan petugas puskesmas serta merujuk pasien ke fasilitas kesehatan swasta maupun RSUD. Rata-rata warga ke fasilitas kesehatan swasta," ungkapnya.
Sementara itu, Tangsel Pos berusaha untuk melihat langsung area sumber air yang disinyalir menjadi sumber penyakit warga. Air olahan tersebut, bersumber dari sebuah tampungan air yang disebut Danau Pelikan oleh warga sekitar.
Dari segi fisik, danau terlihat cukup luas. Berada di tengah antara Perumahan dan kawasan perkampungan yang berada di luar perumahan. Di sana terdapat, alat yang disinyalir merupakan mesin pengolahan air berwarna biru, dan menyambung melalui pipa ke suatu bangunan persegi seperti gardu. Warga menyebut, dari sana lah air WTP yang mengalir ke rumah-rumah mereka itu berasal.
Namun ironinya, danau yang menjadi sumber air utama di perumahan besar tersebut kondisinya sangat memprihatinkan.
Warna airnya keruh kehijauan. Selain itu, tampak banyak sampah mengambang di danau tersebut. Selain itu, di sisi lain pinggir danau juga terlihat tumpukkan sampah yang begitu banyak.
Tak berhenti sampai di situ, saat Tangsel Pos tengah mendokumentasikan kondisi danau, terlihat adanya aliran buangan air yang diduga bersumber dari area di luar perumahan.
"E.Coli itu berasal dari feses atau kotoran," tutup Fitri.
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 9 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 21 jam yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu




