TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Festival Literasi Jakarta Soroti Tantangan Pustakawan di Era Algoritma

Oleh: Shelma MG
Editor: AY
Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:57 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

JAKARTA – Di tengah gempuran teknologi digital dan algoritma yang memengaruhi pilihan bacaan, pustakawan dituntut beradaptasi agar tetap relevan. Bukan sekadar mengelola koleksi, perpustakaan juga harus mampu menjawab kebutuhan pembaca, menjaga akses informasi, hingga melestarikan karya yang sulit ditemukan.


Persoalan tersebut mengemuka dalam workshop bertajuk “Ketika Algoritma Menentukan Bacaan, Masihkah Pustakawan Relevan?” yang digelar dalam rangkaian Festival Pustakarsa dan Festival Literasi Jakarta 2026 di Promenade, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Kamis (15/10).


Kak Reni, mahasiswi doktoral University College London (UCL) yang mengikuti diskusi secara virtual melalui Zoom, menegaskan bahwa keberadaan perpustakaan justru semakin penting seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi.


“Secara umum value dari perpustakaan itu masih sangat dibutuhkan dan malah makin dibutuhkan. Karena akan ada banyak sekali isu terkait informasi ke depannya seiring berkembangnya teknologi informasi. Termasuk bagaimana koordinasi di perpustakaan kecil untuk melakukan digitalisasi dan mengelola isu copyright,” ujarnya.


Salah satu tantangan yang disoroti ialah pendataan dan pelestarian buku yang diterbitkan secara mandiri (self-published books). Buku yang dijual terbatas melalui sistem prapesan (pre-order) kerap sulit ditemukan di toko buku daring maupun luring. Kondisi ini bukan hanya membatasi akses pembaca, tetapi juga menyulitkan perpustakaan mendokumentasikan karya agar tidak hilang dari jejak literasi.


Persoalan lain datang dari koleksi perpustakaan sekolah yang belum tentu sesuai dengan minat siswa. Priscilla Kirana atau Kak Chilla, konten kreator Bookstagram, menilai ketidakcocokan antara koleksi dan kebutuhan pembaca muda dapat menghambat tumbuhnya kebiasaan membaca.


“Minat baca anak muda itu sebenarnya ada, tapi kadang kebutuhan ini tidak terjawab karena koleksi buku di perpustakaan sekolah tidak lengkap dan tidak sesuai minat. Mungkin mereka maunya baca novel atau fiksi, tapi kemudian yang tersedia di perpustakaan malah tutorial Microsoft Word. Itu kan sudah tidak nyambung dengan selera baca mereka,” kata Kak Chilla.


Menurutnya, perpustakaan sekolah perlu menyediakan bacaan yang lebih beragam dan sesuai dengan minat siswa. Jam operasional juga perlu menjadi perhatian agar pelajar memiliki kesempatan lebih luas untuk mengakses buku di sela-sela kegiatan belajar.


Di sisi lain, pustakawan tetap memiliki peran penting dalam membantu pembaca memilih bacaan yang sesuai usia. Artinya, mengikuti tren bukan satu-satunya tuntutan. Pustakawan juga harus mampu menjembatani minat pembaca dengan kebutuhan literasi yang tepat.


Diskusi dalam Festival Literasi Jakarta yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 itu menegaskan bahwa tantangan perpustakaan bukan sekadar mengejar perkembangan teknologi. Lebih dari itu, perpustakaan perlu memastikan koleksi tetap relevan, akses informasi terjaga, dan kebutuhan pembaca lintas generasi terpenuhi.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit