Nestlé Indonesia Ekspor 50.000 Ton Produk ke 30 Negara, Targetkan Nilai Ekspor Rp10 Triliun
TANGERANG – Nestlé Indonesia menargetkan ekspor lebih dari 50.000 ton produk jadi ke lebih dari 30 negara di tiga benua hingga akhir 2026. Selain memperluas pasar internasional, perusahaan juga memperkuat rantai pasok lokal melalui kemitraan dengan petani dan pelaku usaha di Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan seremoni pelepasan ekspor produk olahan kopi Nestlé Indonesia pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Kamis (15/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso secara simbolis melepas ekspor produk olahan kopi Nestlé Indonesia ke Melbourne, Australia.
Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia, Georgios Badaro, mengatakan pencapaian ekspor tersebut menjadi bagian dari perjalanan perusahaan yang telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 55 tahun.
“Menjelang akhir tahun ini, Nestlé Indonesia akan mengekspor lebih dari 50.000 ton produk jadi ke lebih dari 30 negara di tiga benua. Ini merupakan momen yang sangat membanggakan bagi kami dan Indonesia,” ujar Georgios.
Saat ini, Nestlé Indonesia mengoperasikan empat pabrik yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Perusahaan juga menyebut lebih dari 93 persen produk yang dipasarkan di Indonesia diproduksi di dalam negeri.
Menurut Georgios, ekspor tersebut mencerminkan kemampuan industri manufaktur nasional dalam menghasilkan produk yang memenuhi standar pasar internasional. Capaian itu juga melibatkan petani, karyawan, serta mitra lokal yang menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan.
Ia menegaskan, Nestlé Indonesia akan terus berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, dan inovasi untuk meningkatkan daya saing serta memperluas pasar ekspor.

Kemendag dan Nestlé Bidik Ekspor Minimal Rp10 Triliun
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Fajarini Puntodewi, mengungkapkan bahwa kerja sama dengan Nestlé Indonesia mencakup komitmen ekspor minimal Rp10 triliun selama tiga tahun ke depan. Nilai tersebut berpotensi meningkat.
Menurut Fajarini, kerja sama ini tidak hanya berfokus pada ekspor produk jadi, tetapi juga memperkuat daya saing komoditas pertanian dari sisi hulu, terutama melalui peningkatan kapasitas petani dan produktivitas hasil pertanian.
“Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat daya saing di sisi hulu, khususnya para petani, sekaligus meningkatkan produktivitas produk-produk berbasis pertanian rakyat,” kata Fajarini.
Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut sejalan dengan program Desa Ekspor Kemendag yang bertujuan mendorong produk unggulan daerah menembus pasar internasional.
Sejumlah komoditas yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama ini meliputi kopi, cokelat, kelapa, susu, dan rempah-rempah.
Kemendag berharap kemitraan dengan Nestlé dapat memperkuat hubungan antara petani dan industri pengolahan, sekaligus menghubungkan produk pertanian Indonesia dengan jaringan pasar global.

TEI 2026 Catat Kontrak Dagang USD 13,2 Miliar
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 telah mencatat 168 nota kesepahaman atau kontrak dagang antara eksportir Indonesia dan importir dari 22 negara.
Hingga Rabu (14/10/2026) sore, nilai kontrak dagang yang tercatat mencapai USD 13,2 miliar. Pemerintah menargetkan total transaksi TEI 2026 sebesar USD 17,5 miliar.
Budi menjelaskan, capaian tersebut didukung penjajakan bisnis yang dilakukan Kemendag sebelum pameran berlangsung. Melalui perwakilan perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara, pemerintah mempertemukan eksportir Indonesia dengan calon pembeli potensial.
“Jadi, sebelum ikut pameran, sudah ada penjajakan. Kita melakukan business matching dengan buyer potensial di luar negeri sehingga mereka sudah saling mengenal produknya dan perusahaannya,” ujar Budi.
Ia juga mengapresiasi kontribusi Nestlé Indonesia dalam mengembangkan produk lokal agar mampu memenuhi standar internasional. Kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dinilai penting untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah produk Indonesia.
TEI 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 sebagai ajang promosi produk Indonesia dan penjajakan kerja sama perdagangan dengan pembeli internasional.
Melalui peningkatan ekspor produk manufaktur dan penguatan rantai pasok lokal, pemerintah berharap semakin banyak produk Indonesia mampu bersaing di pasar global serta memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan pelaku usaha dalam negeri.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




