Lumina Counseling And Theraphy Center Resmi Buka DI Tangerang
Layanan Psikologis Bagi Anak Remaja dan Keluarga
TANGERANG – Di tengah hiruk-pikuk urbanisasi dan tekanan hidup yang kian kompleks, akses terhadap layanan kesehatan mental yang mumpuni sering kali masih menjadi barang mewah. Menjawab tantangan tersebut, Lumina Counseling and Therapy Center resmi membuka pintunya di kawasan Ruko Aristoteles, Summarecon Serpong, Tangerang, Minggu (8/3/2026), membawa misi sederhana namun mendalam: menjadi "cahaya" bagi mereka yang tengah mencari arah dalam labirin emosi.
Peresmian lembaga layanan psikologi ini bukan sekadar seremoni pembukaan kantor baru. Kehadiran Lumina menjadi oase di tengah data statistik yang cukup mengkhawatirkan. Merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi di tanah air mencapai 1,4 persen, dengan angka tertinggi justru menjangkiti kelompok usia produktif dan remaja (15-24 tahun) sebesar 2 persen.
Founder dan Direktur Lumina Counseling and Therapy Center, Celestine C. Yuliana, mengungkapkan bahwa nama "Lumina" diambil dari filosofi cahaya. Ia ingin lembaga ini merepresentasikan harapan dan kehangatan yang sering kali redup saat seseorang menghadapi persoalan psikologis.
"Lumina hadir untuk memastikan setiap individu merasa didengar, dipahami, dan dihargai. Bagi kami, layanan psikologis bukan sekadar urusan metode atau teknik intervensi teknis, melainkan bagaimana pendekatan profesional itu dipadukan dengan empati," ujar Celestine dalam keterangannya di Tangerang.
Bertumbuh dengan Hati
Dengan filosofi “Growing with Heart”, Lumina didukung oleh enam psikolog profesional yang memiliki spesialisasi mulai dari asesmen anak, remaja, hingga dewasa. Pendekatan yang diusung dirancang agar ramah anak (child-friendly) dan berpusat pada klien (client-centered). Hal ini penting untuk memutus stigma bahwa berkonsultasi ke psikolog adalah hal yang menakutkan atau kaku.
Layanan yang ditawarkan mencakup spektrum yang luas, mulai dari pendampingan tumbuh kembang anak hingga konseling keluarga. Celestine menekankan bahwa kesehatan mental adalah fondasi bagi ketahanan sebuah keluarga. Jika fondasinya rapuh, maka perkembangan individu di dalamnya—terutama anak-anak—akan terhambat.
Membangun Ekosistem Dukungan
Lumina menyadari bahwa persoalan kesehatan mental tidak bisa diselesaikan di dalam ruang praktik semata. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor untuk menciptakan jaring pengaman sosial yang kuat.
Oleh karena itu, Lumina membuka ruang kolaborasi lebar-lebar dengan institusi pendidikan dan tenaga medis. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan profesional kesehatan mental dianggap sebagai kunci utama untuk mendeteksi dini gangguan psikologis pada remaja.
"Dukungan terhadap kesehatan mental tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Kita butuh kolaborasi agar individu dapat berkembang secara optimal," tambah Celestine.
Di tengah laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental, kehadiran titik-titik layanan mandiri seperti Lumina diharapkan mampu memperpendek jarak antara kebutuhan masyarakat dan akses bantuan profesional.
Kini, warga Tangerang dan sekitarnya memiliki pilihan tempat bernaung yang baru—sebuah ruang aman di mana anak-anak bisa bebas mengekspresikan diri, dan orang dewasa bisa menemukan kembali keseimbangan hidup yang mungkin sempat goyah.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 11 jam yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 13 jam yang lalu


