Iran Ajukan 7 Syarat ke Trump, Pintu Perundingan Kembali Terbuka
IRAN — Iran kembali membuka peluang perundingan dengan Amerika Serikat (AS) setelah berbulan-bulan terlibat konflik. Namun, Teheran mengajukan tujuh syarat yang harus dipenuhi Washington sebelum perundingan kembali dimulai.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan tujuh syarat tersebut telah disampaikan kepada pemerintah AS melalui Qatar yang berperan sebagai mediator. Teheran kini menunggu respons Presiden AS Donald Trump.
Rezaei menyebut syarat-syarat itu diperlukan untuk membuka kembali jalur diplomasi dan mengakhiri konflik.
“Iran telah mengajukan tujuh syarat kepada Pemerintah AS untuk memulai perundingan apa pun,” kata Rezaei melalui akun X, Sabtu (19/9/2026).
Dari tujuh syarat tersebut, baru sebagian yang diungkap ke publik. Tiga di antaranya adalah penghentian perang di seluruh front, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade laut AS.
Selain itu, Iran juga menuntut penghentian serangan terhadap wilayahnya dan menolak campur tangan AS dalam urusan internal Iran.
“Kami tetap berhubungan dengan mediator Qatar, yang telah menyampaikan syarat-syarat kami kepada Washington. Kami menunggu jawaban Presiden Trump,” ujar Rezaei, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (21/9/2026).
Rezaei menegaskan, bola kini berada di tangan Washington. Menurut dia, AS harus menerima persyaratan Iran jika ingin mengakhiri konflik.
Meski membuka jalur diplomasi, Teheran tetap menyiapkan opsi militer apabila AS kembali melakukan serangan. Rezaei bahkan memperingatkan Iran siap menghadapi perang yang lebih besar.
Ancaman serupa disampaikan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi mengatakan Iran siap menghadapi perang berkepanjangan dengan mengubah persenjataan dan memperluas cakupan wilayah konflik.
Di sisi lain, Trump membuka kemungkinan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New York saat menghadiri Sidang Umum PBB pekan ini.
Trump menyatakan masih terbuka untuk bertemu Pezeshkian. Washington, menurut Trump, memiliki sejumlah pilihan dalam menghadapi Iran, mulai dari tekanan ekonomi hingga tindakan militer maupun kesepakatan.
Peluang diplomasi juga terbuka setelah AS memberikan visa kepada delegasi Iran untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi termasuk pejabat yang dijadwalkan hadir.
Qatar terus memainkan peran sebagai mediator antara Teheran dan Washington. Selain Qatar, Pakistan juga disebut terlibat dalam upaya menghidupkan kembali perundingan kedua negara.
Namun, ketegangan di kawasan masih tinggi. Konflik telah mengganggu jalur pelayaran internasional, terutama Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Dengan kondisi tersebut, Iran kini menjalankan dua jalur sekaligus: membuka kembali pintu diplomasi melalui Qatar, sembari mempertahankan kesiapan militernya jika perundingan kembali menemui jalan buntu.
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu





