TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Batik Tak Lagi Kaku, Gaya Anak Muda Bawa Warisan Budaya ke Era Fast Fashion

Oleh: Hasna MG
Editor: AY
Jumat, 02 Oktober 2026 | 15:12 WIB
Ilustrasi. Foto : Hasna MG
Ilustrasi. Foto : Hasna MG

JAKARTA — Batik menghadapi tantangan baru di tengah industri fesyen yang bergerak semakin cepat. Pergantian tren yang silih berganti membuat konsumen, khususnya generasi muda, semakin bebas bereksperimen dengan gaya berpakaian.


Di tengah perubahan tersebut, batik tetap mampu mempertahankan tempatnya. Penggunaannya kini tidak lagi identik dengan pakaian formal atau acara resmi, tetapi mulai hadir dalam berbagai gaya busana yang lebih kasual dan dekat dengan keseharian anak muda.


Kementerian Perindustrian mencatat penggunaan batik terus berkembang di kalangan generasi muda. Batik bahkan mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar busana untuk menghadiri kegiatan formal.


Fenomena itu menjadi salah satu hal yang relevan dalam peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober.

 

Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat bagaimana batik dapat terus bertahan dan berkembang mengikuti perubahan zaman.


Bagi anak muda, batik kini semakin mudah dipadukan dengan berbagai jenis pakaian dan aksesori. Eksplorasi gaya membuat batik dapat tampil lebih santai tanpa menghilangkan karakter khasnya.


Cindy, salah satu pengguna batik dari kalangan anak muda, menilai perubahan cara berpakaian membuat batik semakin fleksibel.


"Menurut saya, batik sekarang sudah jadi bagian dari fashion. Anak-anak muda juga lebih eksperimental dalam berpakaian, jadi batik bisa di-mix and match dengan berbagai outfit," ujar Cindy.


Perubahan selera konsumen juga mendorong pelaku industri batik melakukan inovasi. Kementerian Perindustrian menyebut produk batik kini dikembangkan tidak hanya dalam bentuk pakaian, tetapi juga aksesori hingga produk kriya.


Diversifikasi produk tersebut menjadi salah satu cara untuk memperluas pasar sekaligus menjangkau konsumen dari berbagai segmen. Di tengah inovasi itu, identitas dan nilai budaya batik tetap menjadi bagian penting yang perlu dipertahankan.


Namun, perkembangan industri fesyen juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kain bermotif batik yang diproduksi menggunakan teknik printing dapat dibuat secara massal dengan harga lebih terjangkau.


Kondisi tersebut membuat konsumen perlu memahami perbedaan antara batik dan kain bermotif batik. Perbedaan itu tidak hanya terletak pada tampilan, tetapi juga pada proses pembuatan serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.


Tantangan lain datang dari keberlangsungan profesi perajin batik. Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) yang dikutip Kementerian Perindustrian, jumlah perajin batik pada 2019-2023 turun sekitar 20 persen, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu perajin.


Penurunan tersebut menjadi perhatian karena keterampilan membatik tidak dapat diperoleh secara instan.

Prosesnya membutuhkan ketekunan, pengalaman, serta keahlian yang selama ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Di tengah kondisi itu, generasi muda memiliki posisi penting bagi masa depan batik. Kementerian Perindustrian menyebut anak muda mulai melihat batik sebagai produk yang dapat mengikuti perkembangan mode.


Pengembangan motif dan desain yang lebih modern dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas penggunaan batik. Dengan demikian, batik tidak hanya bertahan sebagai simbol budaya, tetapi juga tetap relevan dengan selera dan gaya hidup generasi baru.


Batik Indonesia sendiri mendapat pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009 sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan di Indonesia sebagai Hari Batik Nasional.


Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum untuk kembali melihat masa depan batik di tengah derasnya perubahan industri fesyen. Bagi generasi muda, mengenakan batik bukan sekadar memilih pakaian, melainkan juga menjadi salah satu cara menjaga warisan budaya agar tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit