TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Dewan Tangsel Sebut Perlu Kajian Matang Bina Siswa Bandel Di Barak TNI

Reporter: Idral Mahdi
Editor: Redaksi
Rabu, 07 Oktober 2026 | 07:30 WIB
Ketua Fraksi PDIP Adi Sirya Purba
Ketua Fraksi PDIP Adi Sirya Purba

SETU-Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengirim siswa yang memiliki persoalan kedisiplinan ke barak TNI mendapat perhatian dari kalangan legislatif di Kota Tangsel. Program tersebut rencananya mulai dijalankan pada Oktober 2026 dengan pola pembinaan selama dua hari satu malam. 

 

 Kebijakan itu ditujukan sebagai salah satu upaya menangani persoalan kenakalan dan kedisiplinan pelajar.

 

 Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tangsel, Adi Surya Purba mengatakan, langkah tersebut perlu dikaji secara matang, terutama terkait pola pembinaan yang akan diterapkan kepada para siswa.

 

 Menurutnya, pembinaan di lingkungan barak tidak boleh semata-mata dimaknai sebagai bentuk hukuman terhadap siswa yang dianggap bermasalah.

 

 "Prinsipnya langkah Pemprov Banten dalam merespons fenomena kenakalan remaja dengan mengirim ke barak harus disertai catatan mendasar terkait bentuk dan mekanisme pelaksanaannya," kata Adi, Selasa (6/10).

 

 Ia menegaskan, pola pembinaan seharusnya mengutamakan pendekatan yang humanis dan edukatif. Tujuannya bukan hanya membuat siswa lebih disiplin, tetapi juga membantu mereka memperbaiki karakter dan perilakunya.

 

 'Pembinaan di barak harus mengedepankan pola pengasuhan yang humanis, edukatif, serta pemulihan karakter atau rehabilitatif, bukan melalui pendekatan militeristik atau hukuman fisik," ujarnya.

 

 Adi menyebut, kedisiplinan positif, pembentukan mental, serta bimbingan dan konseling harus menjadi bagian penting dalam program tersebut.

 

 Dengan pendekatan itu, siswa diharapkan tidak hanya mendapatkan pembinaan dalam waktu singkat, tetapi juga memahami penyebab persoalan yang membuat mereka mengalami masalah kedisiplinan maupun perilaku.

 

 Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan tempat pembinaan menjadi lingkungan yang aman bagi siswa. Menurutnya, program tersebut jangan sampai justru menimbulkan persoalan baru bagi anak.

 

."Kita juga harus memastikan lingkungan pembinaan aman dari segala bentuk kekerasan fisik maupun psikologis yang berpotensi menimbulkan trauma baru bagi siswa," tegasnya.

 

 Adi menilai, pembinaan di barak tidak seharusnya ditempatkan sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan kenakalan remaja. Sebab, perilaku siswa sering kali dipengaruhi berbagai faktor di luar lingkungan sekolah.

 

."Masuk barak tidak boleh dilihat sebagai solusi tunggal atau quick fix. Kenakalan remaja sering kali merupakan cerminan dari persoalan di luar sekolah," katanya.

 

 Karena itu, ia mendorong adanya penanganan yang lebih menyeluruh dengan melibatkan keluarga, sekolah, serta lingkungan tempat siswa bergaul.

 

 Dari sisi keluarga, kata Adi, orang tua perlu mendapatkan pembekalan mengenai pola asuh dan dilibatkan secara aktif dalam proses pembinaan anak. "Harus ada pelatihan pola asuh atau parenting dan keterlibatan aktif orang tua," ujarnya.

 

 Sementara, di lingkungan sekolah, pengawasan terhadap pergaulan siswa perlu diperkuat. Sekolah juga harus memiliki komitmen untuk menerima dan merangkul siswa setelah menyelesaikan masa pembinaan.

 

 Menurut Adi, proses pembinaan tidak boleh berhenti ketika siswa keluar dari barak. Pendampingan lanjutan diperlukan agar perubahan perilaku yang diharapkan dapat bertahan dalam jangka panjang.

 

 "Harus ada program evaluasi dan mentoring berkesinambungan agar anak tidak kembali ke pola perilaku lama," pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit