145 Warga Serpong Lagoon Alami Diare dan Muntaber, Diduga Akibat Air Terkontaminasi
SETU — Sebanyak 145 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mengalami diare dan muntaber dalam sepekan terakhir. Sejumlah warga juga mengeluhkan demam, mual, dan muntah. Dugaan sementara, kejadian ini berkaitan dengan kualitas air yang digunakan warga. Namun, penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel hingga 12 Oktober 2026, dari total 145 warga yang mengalami gejala diare, sebanyak 67 orang telah sembuh, 67 orang menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Ketua RT setempat, Heru Cahyono, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat sejak sepekan kemarin. Jumlah warga yang mengalami gejala serupa terus bertambah hingga pengurus lingkungan melakukan pendataan secara mandiri.
“Iya, memang benar, lagi ada musibah. Warga di Serpong Lagoon banyak yang terkena penyakit diare dan muntaber,” ujar Heru saat dihubungi, Selasa (13/10).
Ia menjelaskan, pendataan awal dilakukan oleh ibu-ibu di lingkungan setempat setelah jumlah warga yang mengalami keluhan semakin banyak. Sebelumnya, kasus tersebut belum terdata secara menyeluruh.
“Ramainya ini sih sejak seminggu belakangan. Mulai kencangnya itu pas hari Kamis dan Rabu minggu lalu. Sebelumnya sempat tidak terdata, tapi karena jumlahnya makin masif, akhirnya dilakukan pendataan oleh ibu-ibu di lingkungan sekitar,” jelasnya.
Menurut Heru, warga yang terdampak berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Namun, anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak mengalami gejala muntah dan diare.
“Gejalanya hampir sama semua, yaitu muntah dan diare. Untuk korbannya sebenarnya campuran antara dewasa dan anak-anak, tetapi memang kebanyakan korbannya adalah anak-anak,” ungkapnya.
Terkait dugaan penyebabnya, Heru menyebut air dari instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) menjadi salah satu hal yang disoroti warga. Meski demikian, ia menegaskan penyebab kejadian tersebut belum dapat dipastikan.
“Kepastiannya masih dalam proses pengujian sampel,” katanya.
Heru mengatakan, Dinkes dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel telah turun ke lapangan untuk mengambil sampel air pada Jumat pekan lalu. Pemeriksaan dilakukan di lingkungan warga untuk mengetahui kualitas air yang digunakan sehari-hari.
“Dari pihak kelurahan, Dinkes, dan DLH sudah turun langsung ke lapangan untuk mengambil sampel air di semua RT yang ada di lingkungan kami,” ujarnya.
Pengurus RT dan RW juga berencana mengambil sampel air secara mandiri melalui pihak swasta untuk memperoleh pemeriksaan pembanding. Selain itu, surat telah dilayangkan kepada pihak pengelola air guna meminta penjelasan resmi terkait kejadian tersebut.
Persoalan ini juga akan dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD dan para pemangku kepentingan terkait. Menurut Heru, DPRD telah mendengar keluhan warga dan menjadwalkan pertemuan pada Rabu (14/10) sekitar pukul 09.00 WIB.
“Pihak DPRD mendengar keluhan ini dan memanggil semua stakeholder yang terlibat untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP). Pertemuan ini penting agar pihak RT/RW juga bisa mendengar penjelasan langsung dari pihak pengelola air,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan pihaknya telah melakukan penanganan terhadap peningkatan kasus diare akut di Perumahan Serpong Lagoon.
Kejadian tersebut mulai dilaporkan pada 7 Oktober 2026 setelah sejumlah warga mengalami keluhan kesehatan dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan melakukan penanganan terhadap peningkatan kasus diare akut yang terjadi di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan,” ujar Allin dalam keterangannya.
Berdasarkan hasil pemantauan hingga 12 Oktober 2026, tercatat 145 warga mengalami gejala diare. Dari jumlah tersebut, 67 orang telah sembuh, 67 orang menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Kasus diare tersebut terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa. Berdasarkan hasil pendataan sementara, kelompok balita merupakan kelompok yang paling banyak terdampak,” ungkapnya.
Terkait dugaan penyebab kejadian tersebut, Dinkes bersama UPTD Puskesmas Keranggan telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pendataan dan pemantauan kasus, pemeriksaan kesehatan, serta pemberian pengobatan kepada warga yang mengalami keluhan.
Dinkes juga mengambil sampel air dari instalasi pengolahan air bersih atau Water Treatment Plant (WTP) dan rumah warga untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi faktor risiko kejadian diare.
Allin menjelaskan, peningkatan kewaspadaan juga dilakukan karena diare termasuk penyakit dengan tingkat risiko tinggi pada Oktober berdasarkan Kalender Hazard Kota Tangerang Selatan Tahun 2026.
“Berdasarkan Kalender Hazard Kota Tangerang Selatan Tahun 2026, penyakit diare termasuk salah satu penyakit dengan tingkat risiko tinggi pada bulan Oktober. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan dini, pemantauan kasus, serta upaya pencegahan dan pengendalian penyakit diare di masyarakat,” paparnya.
Untuk mencegah bertambahnya kasus, Dinkes mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Menjaga kebersihan makanan dan minuman, menggunakan air minum yang aman, serta rutin mencuci tangan menggunakan sabun,” katanya.
Selain itu, Allin mengingatkan pentingnya imunisasi Rotavirus bagi bayi sesuai jadwal imunisasi yang dimulai pada usia dua bulan. Imunisasi tersebut bertujuan memberikan perlindungan terhadap diare berat akibat infeksi Rotavirus.
“Masyarakat juga diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala diare, terutama pada balita, lansia, dan kelompok rentan, guna mencegah dehidrasi dan komplikasi yang lebih serius,” lanjutnya.
Allin menegaskan, pemantauan kasus dan pengawasan kualitas air bersih akan terus dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan optimal.
“Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan terus meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemantauan perkembangan kasus, pengawasan kualitas air bersih, serta memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak berjalan secara optimal guna mencegah bertambahnya kasus dan mempercepat pemulihan kesehatan warga,” tandasnya.
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 16 jam yang lalu
Olahraga | 7 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 3 hari yang lalu
Internasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu




