IHSG Ambruk 11,57 Persen, Rupiah Tembus Rp 18 Ribu Usai Peringatan MSCI
JAKARTA - Peringatan lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengguncang pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas, sementara rupiah semakin tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
MSCI membuka kemungkinan mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market atau pasar negara berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri. Wacana tersebut tertuang dalam laporan yang dirilis Kamis (15/10/2026).
MSCI menilai sejumlah persoalan mendasar masih membayangi pasar modal Indonesia. Sorotan utamanya meliputi transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya bukti penegakan hukum yang dinilai memadai.
MSCI akan mengumpulkan masukan dari pelaku pasar selama periode konsultasi. Keputusan akhir mengenai usulan perubahan klasifikasi tersebut dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Proposal bisa dihentikan apabila terdapat bukti nyata perbaikan tata kelola pasar.
Namun, pengumuman itu langsung memicu tekanan besar di pasar domestik.
IHSG anjlok 469,86 poin atau 8,01 persen ke level 5.393,92 saat pembukaan perdagangan Jumat. Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons kejatuhan tersebut dengan menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt selama 30 menit.
Tekanan jual berlanjut sepanjang sesi perdagangan. IHSG sempat bergerak di rentang 5.185,11 hingga 5.404,51 sebelum ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11.
Gejolak juga menghantam nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda melemah 100 poin atau 0,56 persen ke level Rp 18.038 per dolar AS pada pembukaan. Hingga penutupan, rupiah masih tertekan dan berakhir di posisi Rp 18.027 per dolar AS, melemah 89 poin atau 0,50 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, pengumuman MSCI menjadi salah satu faktor yang memicu pelemahan IHSG dan rupiah. Ia mempertanyakan waktu penyampaian peringatan tersebut, mengingat MSCI baru bertemu dengan sejumlah pejabat Indonesia di Bangkok, Thailand, pada Selasa (13/10/2026).
"Ini kan ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kenapa (MSCI) enggak ngomong yang ini. Padahal yang kemarin itu seminggu juga belum," ujar Airlangga.
Meski mempertanyakan langkah MSCI, Airlangga meminta semua pihak tidak terburu-buru menarik kesimpulan negatif.
"Ya, tentu kita lihat saja, tapi kita tidak boleh suuzan," tegasnya.
OJK dan BEI Siapkan Pembenahan
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan menghormati penilaian MSCI dan akan menindaklanjuti masukan yang disampaikan. Ia menilai pasar modal Indonesia masih memiliki prospek positif.
Menurut Friderica, fundamental ekonomi yang terjaga, pertumbuhan basis investor, valuasi saham yang kompetitif, serta kinerja emiten yang secara umum positif menjadi modal penting bagi pasar saham domestik.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, masukan MSCI sejalan dengan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia. Salah satu fokus pembenahan ialah memastikan penegakan hukum berlangsung konsisten dan berkelanjutan.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik juga menegaskan komitmen regulator untuk memperkuat transparansi, integritas, dan kualitas pasar modal. BEI akan meminta klarifikasi kepada MSCI mengenai dasar penilaian yang melatarbelakangi pengumuman tersebut.
Jeffrey menyebut langkah perbaikan yang telah dilakukan otoritas mendapat respons positif dari investor global dan sejumlah penyedia indeks internasional. Ia menilai pembenahan tersebut mencerminkan keseriusan Indonesia dalam memperkuat kredibilitas dan daya saing pasar modal.
Gejolak pasar turut mendapat perhatian DPR. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mendatangi BEI bersama Kapolri Suyudi Ario Seto, CEO Danantara Rosan Roeslani, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, serta Kepala BP BUMN Dony Oskaria.
"Kami memonitor serta meminta kepada bursa untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan," kata Dasco dalam konferensi pers di BEI, Jumat (16/10/2026).
BI Turun Tangan Jaga Rupiah
Di tengah tekanan pasar, Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menahan pelemahan rupiah yang telah menembus Rp 18.000 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS. Kondisi tersebut turut menekan pasar keuangan domestik dan berpotensi memperpanjang arus keluar dana dari aset portofolio Indonesia.
"Hal ini menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut," ujar Erwin.
BI melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menyebut pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,28 persen.
Di tengah gejolak pasar, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
BI memastikan akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar bergerak sesuai fundamental ekonomi serta memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik.
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu




