Suhu Di Ibu Kota Sejuk Sampai Akhir Desember

JAKARTA - Suhu sejuk yang kini sedang dirasakan warga Jakarta diramal akan berlangsung hingga akhir Desember. Meski begitu, warga DKI harus waspada terhadap potensi banjir. Karena di waktu bersamaan, curah hujan akan meningkat.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menuturkan, sejak seminggu lalu, pihaknya mendeteksi potensi masuknya seruak angin dingin yang berasal dari dataran tinggi Siberia ke Indonesia.
Seruak diperkirakan akan mencapai Indonesia pada pertengahan hingga akhir Desember.
Seruak dingin itu, paparnya, menyebabkan angin kencang, gelombang tinggi, hingga meningkatnya curah hujan. Akibat kondisi tersebut, ada dua skenario kemungkinan terjadi.
“Skenario terburuk, meningkatkan curah hujan dengan intensitas yang ekstrem. Contoh yang sudah terjadi di Januari 2020. Kondisi terparah terjadi, Jabodetabek banjir saat itu,” kata Dwikorita saat Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi V DPR, Rabu (4/12/2024).
Sementara itu, skenario paling ringan akan mengganggu aktivitas pelayaran, seperti pada 2022. Saat itu kapal yang tengah berlabuh di Merak sempat oleng karena adanya seruak angin. Kendaraan yang berada di sana akhirnya masuk ke laut.
“Doanya semoga tidak terjadi. Tapi secara deteksi ada peluang terjadi,” ingatnya.
Untuk diketahui, dua hari belakangan ini, suhu di Jakarta terasa lebih sejuk. Bahkan, pada malam hari terasa lebih dingin.
Waspada Banjir
Untuk mengantisipasi prediksi tersebut, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Yuke Yurike mendorong Pemprov DKI mengoptimalkan penanganan dan pencegahan banjir.
“Biasanya di bulan-bulan terakhir ini curah hujan tinggi,” kata Yuke.
Politisi PDI Perjuangan ini mengimbau agar Pemprov DKI memitigasi dan antisipasi bencana sejak jauh hari. Sehingga dampak dari musim hujan di akhir tahun tidak menyebabkan bencana.
“Masih banyak sebetulnya yang belum selesai. Termasuk juga tanggul dan normalisasi sungai yang memang belum selesai, itu kan pasti berpengaruh,” ujar Yuke.
Yuke minta Pemprov DKI mengoptimalkan pembersihan saluran yang tersumbat serta mengeruk sungai-sungai yang dangkal. Selain itu, komunikasi lintas instansi perlu ditingkatkan lagi sehingga pembenahan Jakarta bisa lebih optimal.
Permintaan senada dilontarkan Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo. Rio minta Pemprov segera menggencarkan dan meningkatkan pengerukan kali dan saluran air.
“Supaya sedimentasi bisa diminimalisir,” kata Rio, Rabu (4/12/2024).
Rio bilang, kegiatan ini harus dilakukan secara konsisten dan berkala, untuk mencegah banjir gara-gara saluran air mampet. “Saluran air baik di jalan raya maupun jalan lingkungan, khususnya di wilayah rawan banjir,” ucapnya.
Selain itu, Rio meminta Pemprov mempersiapkan mesin pompa air di daerah rawan banjir.
“Intisari penanganannya harus komprehensif atau menyeluruh, integral atau menyatu dan holistik atau utuh,” pungkasnya.
Banjir masih menjadi momok Jakarta. Itu lantaran Jakarta berada di wilayah dataran rendah dengan belasan aliran sungai. Selain itu, dampak perubahan iklim seperti anomali curah hujan yang semakin tinggi menambah risiko bencana banjir di Jakarta.
Selain faktor alam, penggunaan air tanah untuk kebutuhan rumah tangga dan industri yang berlebihan menyebabkan penurunan muka tanah. Hal tersebut turut berkontribusi akan bencana banjir yang melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) memiliki beberapa upaya guna menangani banjir. Beberapa di antaranya mulai dari pembangunan infrastruktur, pengerahan petugas ke titik strategis, hingga skema terintegrasi penanganan banjir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan, penyediaan sarana dan infrastruktur pengendali banjir menjadi komitmen Pemprov DKI untuk melindungi kota dan warga dari dampak banjir yang merugikan.
Namun, ditekankan Ika, penanganan banjir tidak bisa hanya dilakukan oleh Pemprov DKI saja. Butuh kerja sama dengan berbagai pihak lainnya.
“Permasalahan banjir di Jakarta membutuhkan sinergi antar instansi. Wilayah aglomerasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) menghadapi masalah kewilayahan serupa seperti banjir,” kata Ika.
Selain itu, partisipasi aktif masyarakat seperti menjaga lingkungan akan berdampak pada pengurangan risiko banjir di Jakarta.
“Serta mematuhi aturan akan menjaga wilayah Jakarta dari ancaman banjir seperti tidak membuang sampah sembarangan,” pungkasnya.
Nasional | 19 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 19 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu