Kebijakan Ekonomi Perlu Disesuaikan, Situasi Dunia Memburuk
JAKARTA - Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu gejolak ekonomi global. Salah satu dampak paling terasa adalah melonjaknya harga minyak dunia yang kini menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut ikut menekan nilai tukar rupiah serta pasar saham di Indonesia.
Harga minyak Brent bahkan sempat menyentuh 119,50 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat (WTI) mencapai 119,48 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi ini menambah ketidakpastian ekonomi global.
Tekanan juga terasa di pasar keuangan domestik. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah sempat dibuka di level Rp17.019 per dolar AS sebelum akhirnya menguat ke Rp16.935 per dolar AS saat penutupan. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 3 persen ke level 7.374 dan ditutup turun 3,27 persen di posisi 7.337.
Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan menilai lonjakan harga minyak berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran 70 dolar AS per barel.
Menurutnya, pemerintah perlu berhati-hati dan tidak terburu-buru membuka wacana kenaikan harga BBM agar tidak menimbulkan kepanikan publik. Ia menyarankan pemerintah terlebih dahulu melakukan efisiensi belanja kementerian dan lembaga, memperbaiki penyaluran subsidi agar lebih tepat sasaran, serta berbagi risiko dengan BUMN.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan, lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi global. Kondisi tersebut juga bisa memengaruhi kinerja ekspor Indonesia serta meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.
Ia menyarankan pemerintah melakukan stress test terhadap asumsi makro APBN, seperti harga minyak, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, guna mengantisipasi tekanan fiskal yang lebih besar.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa harga minyak akan bertahan tinggi dalam jangka panjang.
Menurutnya, pemerintah terus memantau perkembangan global dan telah melakukan uji risiko terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap defisit APBN.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi, antara lain memaksimalkan penerimaan dari sektor batu bara dan kelapa sawit, memperkuat bantuan sosial bagi kelompok rentan, serta mempererat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, pemimpin Gereja Katolik Pope Leo XIV juga menyerukan agar perang segera dihentikan dan dialog kembali dibuka guna mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah.
Pos Tangerang | 3 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 jam yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu



