BI Luncurkan 7 Strategi Stabilkan Rupiah, Perry Warjiyo Yakin Nilai Tukar Akan Menguat
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh strategi utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan musiman, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang melemah.
“Nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalue). Ke depan, kami optimistis rupiah akan kembali stabil dan menguat,” ujar Perry usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Tekanan terhadap rupiah, menurut Perry, dipicu oleh beberapa faktor global, antara lain tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang masih tinggi—di kisaran 4,47 persen—juga mendorong aliran modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, permintaan dolar AS meningkat pada periode April hingga Juni untuk kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, serta biaya haji.
Meski demikian, Perry menekankan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen, inflasi terkendali, kredit tumbuh positif, dan cadangan devisa tetap kuat.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI menyiapkan tujuh langkah strategis:
Pertama, memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di berbagai pusat keuangan global.
Kedua, memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bersama Kementerian Keuangan guna menjaga arus masuk modal asing dan meredam tekanan di pasar saham serta Surat Berharga Negara (SBN).
Ketiga, melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder, yang hingga kini telah mencapai Rp13,1 triliun, sebagai bagian dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Keempat, memastikan likuiditas perbankan dan pasar tetap memadai, dengan pertumbuhan uang primer yang tercatat mencapai 14,1 persen.
Kelima, memperketat aturan pembelian dolar tanpa underlying. Batas pembelian diturunkan dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan, dan akan kembali dikurangi menjadi 25 ribu dolar AS. Selain itu, BI juga mendorong penggunaan transaksi yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keenam, memperkuat pasar offshore NDF dengan memberi ruang bagi bank domestik untuk bertransaksi di pasar internasional, sehingga pasokan valuta asing meningkat.
Ketujuh, meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar oleh perbankan dan korporasi, bekerja sama dengan otoritas terkait guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perry menegaskan, seluruh kebijakan tersebut dirancang untuk memastikan rupiah tetap stabil di tengah dinamika global.
“Fundamental ekonomi kita kuat. Karena itu, rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” tegasnya.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu






