Dalam 5 Tahun Kota Serang Menjadi Tujuan Favorit Migrasi di Banten
SERANG - Dalam lima tahun terakhir, Kota Serang menjadi daerah paling diminati oleh penduduk antar kabupaten/kota untuk bertempat tinggal di Ibu Kota Provinsi Banten tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, angka migran risen antar kabupaten/kota per 100 penduduk di Kota Serang untuk migrasi masuk berada di angka 3,53 dan migrasi keluar di angka 1,29 dengan migrasi netto 22,4.
Tingginya migrasi masuk penduduk dalam lima tahun terakhir tidak terlepas dari geliat Kota Serang sebagai daerah urban baru di Provinsi Banten dengan kemudahan aksesibilitas, infrastruktur, layanan publik, lapangan pekerjaan, pendidikan dan sektor lainnya yang memadai. Migrasi masuk ke Kota Serang, bahkan mengalahkan wilayah Tangerang Raya (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan). Secara berurutan migrasi masuk ketiga wilayah tersebut berada di angka 24,3- 2,37 - 1,89.
Ketua Tim Statistik BPS Banten, Adam Sofian menerangkan, pergeseran arus penduduk ini mulai meninggalkan wilayah Tangerang Raya yang kini dianggap telah mencapai titik jenuh.
Hal ini terungkap dalam hasil Survei Antar Sensus (Supas) 2025 yang memotret pola perpindahan penduduk di Provinsi Banten.
“Bisa diasumsikan yang masuk di Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan sebelumnya bisa dibilang jenuh dalam kapasitas tempat tinggal dan perekonomian, akhirnya dia (warga, red) nyari yang lain,” ungkap Adam, saat memberikan keterangan terkait hasil Supas 2025, Rabu (6/5/2026).
Dikatakannya, Kota Serang yang menjadi Ibu Kota Provinsi Banten sejak era otonomi daerah pada tahun 2000 dinilai memberikan dampak jangka panjang terhadap daya tarik wilayah. Penduduk yang bermigrasi ke Kota Serang rata-rata merupakan pencari kerja yang ingin memanfaatkan perkembangan ekonomi di pusat provinsi.
BPS mengidentifikasi bahwa alasan utama perpindahan ini didominasi oleh faktor ekonomi. Selain sektor industri dan perdagangan, posisi Kota Serang sebagai pusat birokrasi juga menarik minat banyak aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai daerah untuk menetap.
“Orang berpindah itu paling banyak karena faktor ekonomi, mencari kesempatan kerja, dan kedua tempat tinggal. Kalau domisili kebanyakan di Kota Serang karena fasilitas publik yang tersedia kebanyakan di Kota Serang,” ungkapnya.
Meski begitu pihaknya memberikan catatan kritis mengenai kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Mengingat Banten sedang berada dalam masa bonus demografi dengan komposisi usia produktif (15-46 tahun) yang besar, kualitas individu menjadi kunci agar pendatang dan warga lokal dapat bersinergi.
Adam menegaskan, bahwa jika potensi usia muda tidak dibarengi dengan keahlian yang mumpuni, hal tersebut justru dapat memicu masalah sosial. Kesenjangan kompetensi antara warga lokal dan pendatang harus diminimalisisasi agar kesempatan kerja dapat terserap secara merata.
“Yang paling krusial dari bonus demografi adalah kualitas. Kalau bonus demografi muda dan potensi ini tidak berkualitas, maka akan timbul masalah pengangguran, kerawanan sosial, beban keluarga, istilahnya dependency ratio,” tegasnya.
Pelaksanaan Supas 2025 dilakukan setiap lima tahun sekali sebagai rujukan antara dua sensus penduduk. Teknis pengumpulan data dilakukan secara door-to-door dengan mengambil sampel 10 rumah di setiap Satuan Lingkungan Setempat (SLS).
Metodologi yang digunakan telah terstandarisasi secara internasional di bawah asistensi Badan Dunia Statistik (UN Stat) dan UNDP. Hasil rilis data kependudukan ini diharapkan menjadi landasan bagi pemerintah daerah dan sektor swasta dalam menyusun proyeksi pembangunan serta kebijakan strategis di masa depan.(*)
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu






