IHSG Menguat, Rupiah Masih Tertekan
JAKARTA - Pasar keuangan domestik memulai Juni 2026 dengan pergerakan yang beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan signifikan, sementara nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan mendekati level Rp17.900 per dolar AS.
Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), IHSG dibuka menguat 82,62 poin atau 1,35 persen ke level 6.210. Penguatan berlanjut hingga penutupan sesi pertama dengan kenaikan 1,49 persen menjadi 6.218,86. Meski sempat terkoreksi menjelang akhir perdagangan, IHSG tetap ditutup di zona hijau pada level 6.195,43 atau naik 68,05 poin (1,11 persen).
Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 30,84 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp25,02 triliun.
Berbeda dengan pasar saham, rupiah masih melanjutkan tren pelemahan. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.839 per dolar AS, melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.805 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan yang juga dialami sejumlah mata uang Asia. Won Korea Selatan melemah 0,34 persen, dolar Taiwan turun 0,26 persen, rupee India terkoreksi 0,23 persen, sementara yen Jepang dan dolar Hong Kong juga mencatat pelemahan tipis. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat ke level 99,07 dari sebelumnya 99,02.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, meski ruang kenaikannya mulai terbatas. Secara teknikal, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan pasar mulai memasuki area jenuh beli (overbought), sehingga investor perlu mewaspadai potensi konsolidasi dalam jangka pendek.
"IHSG, inflasi Indonesia, nilai tukar rupiah, serta konflik Timur Tengah menjadi faktor utama yang dicermati investor dalam menentukan strategi investasi jangka pendek," ujar Audi di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 6.060 dan resistance 6.209. Selain data inflasi dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia, pelaku pasar juga terus memantau perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Direktur PT Trijaya Pratama Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih didominasi sentimen eksternal, terutama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pasar saat ini mencermati negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
"Situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis. Ketidakjelasan negosiasi AS-Iran membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan kembali memburu aset safe haven," kata Ibrahim.
Ketegangan juga dipicu konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Lebanon. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu distribusi energi global, terutama setelah Iran membatasi sejumlah pengiriman dari dan menuju kawasan Teluk.
Selain faktor geopolitik, pasar turut merespons kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menandatangani proklamasi perubahan tarif impor untuk sejumlah komoditas strategis seperti tembaga, aluminium, dan besi guna memperkuat industri domestik hingga 2027.
Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen, dengan inflasi bulanan 0,28 persen dan inflasi tahun kalender 1,35 persen.
Kinerja sektor manufaktur juga mulai menunjukkan perbaikan. Data S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026. Angka tersebut menandakan sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Menurut Ibrahim, perbaikan itu didorong meningkatnya permintaan domestik dan pesanan baru dalam dua bulan terakhir. Namun, sektor industri masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok yang membatasi laju produksi.
Meski demikian, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



