Trump Bantah AS Kehabisan Rudal, Buka Peluang Dialog dengan Iran
AS - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah kabar yang menyebut militernya kehabisan rudal hingga menghentikan serangan ke Iran. Menurut Trump, stok amunisi AS masih mencukupi, sementara penghentian serangan dilakukan karena terbukanya peluang dialog dengan Teheran.
Sejak Sabtu (25/7/2026), AS menghentikan operasi militernya terhadap Iran. Keputusan tersebut memicu spekulasi bahwa Washington mulai kehabisan persediaan amunisi setelah sebelumnya Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran.
Trump menepis isu tersebut. Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, ia menegaskan militer AS masih memiliki persediaan amunisi yang memadai.
"Kami memiliki banyak amunisi. Kami berada dalam kondisi yang sangat baik," ujar Trump, seperti dikutip CNN, Selasa (28/7/2026).
Trump mengakui persediaan amunisi canggih memang berkurang. Namun, ia menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang mengirimkan sebagian besar persenjataan mutakhir ke Ukraina. Ia memastikan industri pertahanan AS kini tengah mempercepat produksi berbagai jenis amunisi, termasuk rudal pencegat Patriot.
Meski demikian, Trump menegaskan penghentian serangan bukan karena keterbatasan persenjataan. Menurutnya, langkah itu diambil setelah Iran disebut meminta pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan.
"Mereka meminta kami dengan sangat baik. Mereka berkata, 'tolong berhenti, mari kita bertemu.' Dan itulah posisi kita sekarang," katanya.
Trump juga mengingatkan bahwa AS siap kembali melancarkan serangan apabila upaya diplomasi gagal membuahkan kesepakatan.
"Saya punya banyak kesabaran. Saya pikir ada peluang bagus. Tetapi jika tidak ada kesepakatan, kami akan kembali melakukan hal yang sama," tegasnya.
Di sisi lain, Iran membantah pernyataan Trump. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan Teheran tidak sedang bernegosiasi dengan Washington.
"Saat ini kami tidak terlibat dalam negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat. Klaim bahwa Iran meminta perundingan hanyalah rekayasa yang disebarkan pihak lain," ujar Baghaei, seperti dikutip AFP.
Baghaei juga mengkritik keras kebijakan pemerintahan Trump yang dinilainya tidak menghormati hukum internasional. Ia menegaskan Iran tetap menguasai pengelolaan Selat Hormuz dan menyebut pembahasan dengan Oman terkait jalur pelayaran strategis itu merupakan urusan bilateral, tanpa keterlibatan Amerika Serikat.
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 23 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



