Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Bukti Fundamental Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Global
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini menunjukkan daya tahan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M Edy Mahmud, mengatakan pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,12 persen, meski sedikit lebih rendah dari pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen.
Menurut Edy, perlambatan secara kuartalan masih mengikuti pola musiman yang lazim terjadi setiap tahun. BPS juga mencatat lima sektor utama penyumbang produk domestik bruto (PDB), yakni industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, dengan kontribusi gabungan mencapai 63,73 persen terhadap perekonomian nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan 5,29 persen merupakan capaian yang patut diapresiasi karena diraih tanpa adanya momentum konsumsi besar seperti Lebaran yang telah berlangsung pada kuartal pertama.
"Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini merupakan pencapaian yang baik," ujar Airlangga.
Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen. Menurut Airlangga, capaian tersebut memperpanjang tren pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen selama tujuh tahun berturut-turut.
Senada, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pertumbuhan 5,29 persen menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang kuat, meski dibayangi kenaikan harga minyak dunia dan perlambatan perdagangan global.
Pemerintah, lanjut Purbaya, akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan pada semester II-2026 guna mendorong pertumbuhan ekonomi mendekati 6 persen. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan likuiditas, penurunan biaya dana perbankan agar suku bunga kredit lebih kompetitif, serta penguatan sektor manufaktur untuk memanfaatkan potensi pemulihan permintaan global.
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu



