Dinkes Tangsel Gencarkan Screening TBC di 246 Titik, Sasar 24.600 Warga
SERPONG – Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) secara lebih dini terus dilakukan Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), screening TBC terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) digelar di 246 titik yang tersebar di seluruh wilayah Tangsel.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel, Fitria Oriza mengatakan, kegiatan tersebut mulai dilaksanakan Selasa (18/8) dan akan berlangsung hingga November mendatang.
Menurut Fitria, setiap titik ditargetkan melayani sekitar 100 orang. Dengan demikian, jumlah sasaran screening dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 24.600 warga.
“Jadi kegiatannya, kegiatan screening TBC terintegrasi dengan kegiatan cek kesehatan gratis atau CKG. Nah itu dilaksanakan di 246 titik di Kota Tangerang Selatan. 246 lokus ini pendanaannya dari APBN, dari Kementerian Kesehatan,” ujar Fitria saat dihubungi Tangsel Pos, Selasa (18/8).
Meski terbuka bagi masyarakat, screening kali ini memberikan perhatian khusus kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC. Di antaranya warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, penderita diabetes, hingga perokok.
Fitria menjelaskan, pemeriksaan juga menyasar warga yang mengalami gejala TBC namun kesulitan mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan menggunakan rontgen diperlukan untuk membantu mendeteksi kemungkinan adanya infeksi TBC.
“Terus apa namanya sebenarnya untuk pasien-pasien diabetes. Pasien diabetes itu kita periksa juga dengan ronsen karena kalau penderita diabetes ini rentan untuk terpapar TBC. Dan biasanya pada pasien ini tidak bergejala, tapi ternyata kuman TBC-nya ada di paru-paru sehingga harus di-screening,” jelasnya.
Pelaksanaan screening sengaja tidak hanya dipusatkan di puskesmas. Dinkes Tangsel bersama puskesmas mendekatkan layanan ke lingkungan tempat tinggal warga, seperti balai warga, posyandu, maupun lokasi lain yang mudah dijangkau masyarakat.
Pada pelaksanaan perdana, screening dengan pemeriksaan rontgen dilakukan di wilayah Pondok Benda dan Setu. Pemeriksaan di setiap lokasi nantinya disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan sasaran.
Fitria menyebut, dalam sehari kegiatan dapat berlangsung di sekitar tiga titik. Pemeriksaan juga dilakukan secara bergantian, termasuk antara lokasi yang dilengkapi fasilitas rontgen dan lokasi tanpa rontgen.
“Kita mendekatkan ke warga. Biasanya kan kalau screening itu kan di puskesmas. Nah, ini kita lakukannya di lokasi-lokasi yang mendekatkan ke warga, di balai warga, di posyandu, di tempat-tempat yang memang jadi titik,” katanya.
Untuk memenuhi target tersebut, Dinkes Tangsel telah meminta puskesmas melakukan pemetaan dan mengundang warga yang masuk dalam kelompok sasaran. Data pasien TBC, kontak erat, penderita diabetes, maupun warga yang dicurigai mengalami TBC menjadi dasar penentuan sasaran.
Dengan pola jemput bola tersebut, warga diharapkan tidak terkendala jarak untuk mendapatkan pemeriksaan. Terlebih, satu lokasi screening ditargetkan dapat menjangkau warga di wilayah sekitar.
Jika dari hasil screening ditemukan warga yang terindikasi positif TBC, penanganan akan dilanjutkan melalui fasilitas kesehatan. Bagi pasien yang masih dapat mengeluarkan dahak, pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menentukan apakah TBC yang diderita sensitif terhadap obat atau resisten obat.
Untuk kasus TBC yang sensitif terhadap obat, pengobatan dapat dilakukan di puskesmas secara gratis. Pasien juga akan mendapatkan pemantauan selama menjalani pengobatan.
“Kalau yang jenis yang sensitif obat itu langsung diobati oleh puskesmas setempat. Karena kan pengobatan TB itu bisa dilakukan di puskesmas secara gratis. Diobatin oleh puskesmas, dipantau,” tuturnya.
Pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan pasien karena obat harus dikonsumsi secara rutin. Fitria menyebut, pengobatan umumnya berlangsung minimal enam bulan.
“Betul, minimal enam bulan. Betul, obat TB supaya kita temukan pasien-pasien itu supaya tidak ada lagi penularan,” katanya.
Sementara itu, upaya peningkatan penemuan kasus TBC masih menjadi perhatian Dinkes Tangsel. Berdasarkan data semester pertama 2026, dari target penemuan dan pelaporan sebanyak 5.994 kasus atau 95 persen.
"Dengan capaian saat ini sebanyak 3.365 kasus atau sekitar 56 persen," paparnya.
Melalui screening yang dilakukan secara masif hingga November, Dinkes Tangsel berharap semakin banyak kasus TBC dapat ditemukan lebih awal sehingga segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan di masyarakat dapat ditekan.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Galeri | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu









