TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

BRIN Siapkan Pelajar Tangsel Kuasai Teknologi Nuklir

Kerja Sama Dengan Rusia

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Rabu, 23 September 2026 | 07:30 WIB
NUKLIR. Konferensi pers perhelatan Science Festival Indonesia yang diikuti ribuan pelajar di Gedung Graha Widya Bhakti Puspiptek, Setu.
NUKLIR. Konferensi pers perhelatan Science Festival Indonesia yang diikuti ribuan pelajar di Gedung Graha Widya Bhakti Puspiptek, Setu.

SETU-Ribuan pelajar di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berkesempatan jadi ahli nuklir masa depan. Para pelajar tersebut diperkenalkan teknologi nuklir oleh Badan Riset inovasi Nasional (BRIN).

 

 Pengenalan teknologi nuklir itu dikemas dalam acara Science Festival Indonesia 2026 di Gedung Graha Widya Bhakti Puspiptek, Kecamatan Setu, Selasa (22/9). Kegiatan yang diikuti 1.200 pelajar ini turut menjadi bagian dari implementasi kerja sama Indonesia dengan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir dan sumber daya manusia.

 

 Wakil Kepala BRIN, Prof Amarulla Octavian mengatakan, Indonesia memiliki perjalanan panjang dalam pengembangan teknologi nuklir. Bahkan, sejak 1960-an Indonesia sudah memiliki reaktor nuklir dan sumber daya manusia yang menguasai bidang tersebut.

 

 Tiga reaktor nuklir yang dimiliki Indonesia berada di Serpong, Yogyakarta dan Bandung. Menurut Amarulla, keberadaan fasilitas dan sumber daya manusia tersebut menjadi modal penting untuk terus mengembangkan pemanfaatan teknologi nuklir.

 

 “Yang pertama, saya menyampaikan bahwa teknologi nuklir itu sudah ada di Indonesia sejak tahun 60-an. Kita punya tiga reaktor nuklir. Ada yang di sini, di Serpong, ada di Jogja, ada di Bandung,” kata Amarulla.

 

 Namun, perkembangan teknologi nuklir tidak cukup hanya ditopang fasilitas riset. Indonesia juga membutuhkan generasi baru yang memahami dan mampu mengembangkan teknologi tersebut. Karena itu, pengenalan kepada pelajar menjadi salah satu langkah yang dinilai penting.

 

 Amarulla mengatakan, generasi muda perlu melihat nuklir dari sisi teknologi dan manfaatnya, bukan hanya dari gambaran yang selama ini melekat pada senjata atau kecelakaan nuklir.

 

 “Jadi, kita di Indonesia itu teknologi nuklir untuk keperluan damai. Nah, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujarnya.

 

 Menurut dia, pemanfaatan teknologi nuklir sudah bersentuhan dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Di bidang kesehatan, misalnya, teknologi nuklir digunakan dalam pengembangan radioisotop dan berbagai aplikasi medis. Teknologi serupa juga dimanfaatkan dalam bidang pangan, pertanian, industri hingga produk kesehatan dan kosmetik.

 

.Karena itu, edukasi kepada pelajar dinilai penting agar mereka memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan teknologi nuklir. Dari pemahaman tersebut, diharapkan muncul ketertarikan untuk melanjutkan pendidikan dan menekuni riset di bidang nuklir.

 

 "Makanya kita banyak sekali upaya-upaya, termasuk sekarang ini mengadakan Science Festival. Supaya apa? Generasi muda kita itu lebih paham,” tuturnya.

 

 Penguatan talenta muda tersebut juga berjalan beriringan dengan kerja sama BRIN bersama Rusia. 

 

 Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Prof Syaiful Bakhri mengatakan, kerja sama kedua negara sudah berlangsung cukup lama dan mencakup sejumlah bidang.

 

 Upaya menyiapkan talenta muda tersebut juga didukung melalui kerja sama BRIN dengan Rusia. Kerja sama ini tidak hanya mencakup pengembangan teknologi nuklir, tetapi juga pendidikan dan pelatihan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu melanjutkan riset di bidang tersebut. 

 

 Salah satunya riset High-Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) yang mulai dikembangkan bersama sejak 2015. Selain sektor energi, kerja sama juga mencakup pemanfaatan teknologi nuklir untuk pangan, kesehatan, industri, serta pengembangan sumber daya manusia.

 

 “Pada 2015 kita juga sudah mulai meriset terkait dengan High-Temperature Gas-Cooled Reactor bersama dengan Rosatom juga begitu ya,” kata Syaiful.

 

 Untuk memperkuat sumber daya manusia, BRIN juga mengirimkan peneliti muda Indonesia ke Rusia. Mereka mengikuti pendidikan dan pelatihan teknologi nuklir tingkat lanjut, baik yang berkaitan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir maupun aplikasi nuklir lainnya.

 

 “Kita mengirimkan young researcher kita, periset kita, future generation kita ke Rusia untuk sekolah dan mengikuti berbagai macam training di sana,” ujarnya.

 

 Bagi BRIN, pembangunan ekosistem nuklir tidak berhenti pada pengembangan teknologi. Menyiapkan orang-orang yang mampu menguasai dan mengembangkan teknologi tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan Indonesia memiliki talenta yang cukup ketika kebutuhan nuklir semakin berkembang.

 

 Syaiful berharap kegiatan seperti Science Festival Indonesia dapat memperluas pemahaman mengenai nuklir, khususnya di kalangan pelajar SMA dan mahasiswa yang menjadi calon generasi penerus di bidang sains dan teknologi.

 

“Harapannya dengan acara yang seperti ini, nuklir semakin dikenal, nuklir memberikan pemahaman yang lebih baik bagi segenap lapisan, khususnya mahasiswa dan teman-teman dari high school atau anak SMA,” pungkasnya.

 

 Di tengah kebutuhan energi dan perkembangan teknologi yang terus bergerak, BRIN melihat generasi muda sebagai bagian penting dari perjalanan panjang nuklir Indonesia. 

 

 Ribuan pelajar yang hadir di Setu pun dikenalkan sejak dini bahwa bidang tersebut bukan sekadar soal reaktor, tetapi juga ruang bagi riset, inovasi dan peluang untuk menjadi peneliti masa depan.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit