IHSG dan Rupiah Tertekan, Sentimen Global Jadi Beban
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026). Tekanan datang dari sentimen global dan domestik yang membuat investor cenderung berhati-hati.
IHSG ditutup turun 1,51 persen atau 94 poin ke level 6.147,86. Indeks LQ45 juga melemah 1,50 persen atau 9,30 poin menjadi 611,81.
Di pasar valuta asing, rupiah terkoreksi 75 poin atau 0,42 persen ke level Rp17.978 per dolar AS.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi global yang dipicu kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.
“Harga minyak yang masih tinggi juga memberikan tekanan,” kata Alrich di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menambahkan, tekanan IHSG juga dipengaruhi kenaikan yield US Treasury. Selain itu, kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 dinilai dapat meningkatkan volatilitas, terutama pada saham berharga rendah.
Namun, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik membantah kebijakan tersebut menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Dia mengatakan, penerapan perdana kebijakan itu berjalan lancar.
“Seluruh proses mulai dari pre-opening sampai pembukaan pasar dan sampai dengan saat ini, seluruh proses kegiatan perdagangan itu berjalan baik,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya permintaan dolar AS dari importir, arus keluar dana asing, serta penguatan indeks dolar AS.
Tekanan terhadap pasar juga diperkuat kekhawatiran eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Investor memilih bersikap defensif menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri pekan ini.
“Dari AS, akan ada data rilis tenaga kerja dan inflasi. Dari domestik, data inflasi dan perdagangan,” kata Lukman.
Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak turut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global. Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi disebut telah memperbesar tekanan inflasi global sejak Februari 2026.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral di berbagai negara mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan mempersempit ruang fiskal.
Karena itu, Ibrahim mendorong penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI).
Koordinasi tersebut, antara lain, diarahkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat sektor eksternal, mengelola likuiditas, mengendalikan inflasi, serta memperdalam pasar keuangan.
Internasional | 22 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu




