AS Tolak Proposal Damai Iran, Harga Minyak Tembus US$106 per Barel
AS — Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai bersyarat yang ditawarkan Teheran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Penolakan tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Dalam perdagangan Senin (28/9/2026), harga minyak mentah Brent naik 1,82 dolar AS atau 1,74 persen menjadi 106,31 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,14 dolar AS atau 1,23 persen menjadi 93,62 dolar AS per barel.
Trump menyebut Iran mengajukan tawaran damai karena berada dalam posisi terdesak.
“Mereka berada di ambang kekalahan besar,” ujar Trump di Gedung Putih, seperti dikutip BBC, Minggu (27/9/2026).
Trump juga mengklaim militer AS masih menguasai Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
“Kami memegang kendali penuh. Minyak dalam jumlah besar keluar dari Selat Hormuz tadi malam. Ada 29 kapal yang melintas,” katanya.
Meski menolak proposal Iran, Trump mengatakan AS tetap membuka peluang untuk melanjutkan pembicaraan.
“Saya juga senang membuat kesepakatan, tetapi kesepakatan itu tidak akan bisa diterima,” ujarnya.
Trump memperkirakan negosiator AS tetap akan terlibat dalam pembicaraan lanjutan dengan Iran pada pekan ini.
Proposal Iran sebelumnya disampaikan melalui Qatar dalam pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari setelah AS memenuhi sejumlah persyaratan.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menjelaskan, AS diminta melakukan sejumlah langkah selama empat hingga lima hari.
Pada hari keenam, Selat Hormuz akan dibuka. Kemudian, pada hari ketujuh, pembicaraan mengenai kesepakatan final antara kedua negara dimulai.
Sejumlah tuntutan Iran antara lain menjamin jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz selama 60 hari, membuka perundingan perdamaian, mencairkan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, memberikan kompensasi biaya perang, serta mencabut sanksi dan menghentikan blokade ekonomi.
Araghchi menegaskan, Teheran masih membuka jalur diplomasi dan menunggu sikap resmi Washington melalui mediator.
“Solusi melalui perundingan dapat mengakhiri kebuntuan ini. Keputusan ada di tangan Trump,” kata Araghchi melalui media sosial X, Minggu (27/9/2026).
Namun, Iran juga menyatakan siap menghadapi kemungkinan terburuk jika konflik kembali pecah.
“Kami sepenuhnya siap jika perang kembali berkecamuk. Kami tetap teguh menghadapi agresi baru apa pun, bahkan jika itu berujung pada perang dahsyat yang menghancurkan,” ujar Araghchi dalam program Meet the Press di NBC News.
Di tengah ketegangan tersebut, situasi di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah masih belum mereda. NBC News melaporkan delapan marinir AS terluka dalam serangan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Sebelumnya, sebuah kapal yang dikontrak AS dilaporkan terkena amunisi Iran di sekitar Selat Hormuz pada 14 September 2026.
Data Pentagon juga menyebut jumlah personel AS yang terluka sejak dimulainya agresi militer AS-Israel terhadap Iran mencapai 861 orang.
Sementara itu, The Washington Post melaporkan, Angkatan Laut AS telah memvalidasi peningkatan jumlah personel yang terluka dalam konflik tersebut. Sebanyak 37 personel dilaporkan mengalami luka pada awal pekan, terdiri dari 29 pelaut Angkatan Laut AS dan delapan Marinir.
Internasional | 22 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu




