TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Puluhan Trayek Angkutan Umum Di Pandeglang Terancam Mati

Jasa Online Lebih Diminati

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Jumat, 09 Oktober 2026 | 09:30 WIB
SEPI PENUMPANG. Situasi di Terminal Kadubanen, Kamis (8/10). Para kernet angkutan umum terlihat sedang mencari penumpang dan ada juga yang duduk santai karena sepi penumpang. (ISTIMEWA)
SEPI PENUMPANG. Situasi di Terminal Kadubanen, Kamis (8/10). Para kernet angkutan umum terlihat sedang mencari penumpang dan ada juga yang duduk santai karena sepi penumpang. (ISTIMEWA)

PANDEGLANG - Trayek angkutan umum di Kabupaten Pandeglang terancam mati total, sebab dari 29 trayek yang tercatat, sebanyak 10 trayek disebut sudah tidak aktif beroperasi. Kondisi itu karena minimnya penumpang dan berkurangnya armada.

 

Terlebih, persaingan dengan transportasi online, travel, hingga penggunaan kendaraan pribadi menjadi salah satu penyebabnya.

 

Kasi Angkutan pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pandeglang, Yusep Yogianto, mengungkapkan, dari total 29 trayek yang tercatat, sekitar 10 trayek saat ini sudah tidak beroperasi.

 

“Dari 29 trayek itu, yang tidak aktif kisaran ada 10 trayek tidak beroperasi. Sehingga otomatis jumlah armadanya berkurang dari 10 trayek yang tidak terisi,” kata Yusep, saat di temui awak media di Terminal Kadubanen, Kamis (8/10).

 

Menurutnya, salah satu faktor utama yang membuat angkutan umum kehilangan penumpang, adalah perubahan pilihan masyarakat dalam menggunakan transportasi.

 

Karena lanjutnya, persaingan dengan travel dan transportasi online semakin kuat. Kondisi tersebut diperparah dengan beralihnya pelajar yang selama ini menjadi salah satu pengguna utama angkutan umum, ke kendaraan pribadi maupun transportasi online.

 

“Sedangkan angkutan itu seperti angkot kan lebih banyaknya ke anak-anak sekolah. Bahkan anak sekolah pun beralihnya ke angkutan online itu sendiri,” ungkapnya.

 

Di sisi lain, jumlah armada angkutan umum yang masih beroperasi di Pandeglang juga terus berkurang. Yusep memperkirakan saat ini terdapat sekitar 600 unit armada, baik yang berada pada trayek aktif maupun trayek yang sudah tidak terisi. “Sekitar 600-an unit kurang lebih dari trayek yang tadi, baik terisi maupun tidak terisi,” ujarnya.

 

Sejumlah trayek bahkan disebut sudah tidak memiliki armada yang beroperasi. Salah satunya trayek Lintas Timur dari Arthabuana menuju Cipacung.

 

“Sebagai salah satu contoh trayek yang tidak terisi itu di antaranya Lintas Timur, kebetulan armadanya tidak ada dari Arthabuana sampai Cipacung. Sama seperti Kadubanen juga ada. Terus dari Lampe Labuan ke Pagelaran itu juga armadanya sudah tidak ada,” jelasnya.

 

Yusep menambahkan, persoalan angkutan umum bukan hanya soal jumlah penumpang. Faktor kenyamanan dan kelayakan kendaraan juga menjadi perhatian, karena masyarakat kini semakin mempertimbangkan kondisi kendaraan sebelum memilih moda transportasi.

 

Ia mengungkapkan, masih ada kendaraan angkutan umum yang belum menjalani pengujian kelayakan kendaraan secara optimal melalui Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB).

 

“Khususnya, kami dari bidang angkutan sudah sering beberapa kali mengimbau ke pengemudi angkutan. Bahkan kita layangkan juga imbauan ke pemilik kendaraan itu sendiri,” tandasnya.

 

Salah seorang warga Pandeglang, Eneng mengaku, sudah lama tak memanfaatkan jasa angkutan umum. Sebab kata dia, saat ini dia lebih memilih menggunakan jasa angkutan online.

 

“Sudah lama juga sih saya tidak naik angkutan umum. Sekarang itu sering pesan jasa angkutan online,” katanya singkat.(pal)

 

 

Epaper
Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit