TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

IMF Revisi Proyeksi Ekonomi Dunia, Risiko Energi dan Utang Mengintai

Oleh: Fazel MG
Editor: AY
Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:05 WIB
Kristalina Goergiva Pimpinan IMF. Foto : Ist
Kristalina Goergiva Pimpinan IMF. Foto : Ist

AS – Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1 persen, dari sebelumnya 3 persen. Namun, konflik Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan tekanan utang masih menjadi ancaman bagi pemulihan ekonomi dunia.


Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis Selasa (13/10/2026), IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. Angka tersebut masih di bawah pertumbuhan 2025 yang mencapai 3,5 persen.


IMF menilai investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Negara-negara yang memiliki industri teknologi kuat dan terlibat dalam rantai pasok perangkat AI mendapat manfaat dari peningkatan investasi tersebut.


Namun, dampaknya belum merata.

Negara yang bergantung pada impor energi dan memiliki keterlibatan terbatas dalam industri teknologi global justru menghadapi tekanan lebih besar. IMF memperkirakan hanya 32 negara yang menyumbang sekitar 95 persen pertumbuhan ekonomi dunia, dibandingkan 54 negara dalam proyeksi April lalu.


Risiko lain datang dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi. Dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi menembus US$130 per barel.


Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang.

Dampaknya berisiko memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, serta membatasi ruang gerak bank sentral dalam menjaga stabilitas harga tanpa menghambat pertumbuhan.


IMF juga mengingatkan ancaman dari peningkatan utang pemerintah dan kemungkinan melesetnya ekspektasi pasar terhadap investasi AI. Jika investasi teknologi tidak menghasilkan lonjakan produktivitas sesuai harapan, koreksi pasar dapat memicu tekanan terhadap pertumbuhan dan stabilitas keuangan.


Negara berkembang menghadapi tantangan lebih berat karena harus menjaga pertumbuhan sekaligus memenuhi kewajiban utang dan membiayai pembangunan. Kenaikan harga energi serta biaya pinjaman berpotensi mempersempit ruang fiskal untuk program sosial, infrastruktur, dan investasi publik.


Karena itu, IMF mendorong pemerintah memperkuat disiplin fiskal, menjaga keberlanjutan utang, dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal. Pemerataan manfaat kemajuan teknologi juga menjadi perhatian agar pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di negara dan sektor tertentu.


Bagi Indonesia, perkembangan ekonomi global tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi. Pergerakan harga energi dan komoditas, ketergantungan pada impor, serta perubahan arus investasi global dapat memengaruhi inflasi, perdagangan, dan pertumbuhan nasional.


Meski proyeksi pertumbuhan dunia masih berada di atas 3 persen, IMF mengingatkan bahwa konflik geopolitik, tekanan utang, dan ketidakpastian investasi AI tetap membayangi prospek ekonomi global.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit