TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Di Hadapan IMF dan Bank Dunia, Purbaya: Sentimen Negatif Tak Cerminkan Kekuatan Ekonomi Indonesia

Menkeu optimistis ekonomi nasional tumbuh mendekati 6 persen pada semester II 2026, didukung stimulus dan belanja pemerintah.

Reporter: Farhan
Editor: AY
Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:31 WIB
Menkeu Purbaya pada acara di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD. Foto : Ist
Menkeu Purbaya pada acara di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD. Foto : Ist

BSD - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap pengalaman menarik saat bertemu pejabat International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Washington DC, Amerika Serikat, pada April 2026. Di hadapan para petinggi lembaga keuangan dunia itu, Purbaya bahkan menyebut dirinya sebagai “menteri paling tidak beruntung di dunia”.


Kisah tersebut disampaikan Purbaya saat membuka ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (4/8/2026).


“I told them that I’m the most unlucky minister in the world,” ujar Purbaya.
Menurutnya, jabatan Menteri Keuangan dijalani di tengah berbagai tantangan, mulai dari gelombang demonstrasi, sentimen negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional, hingga memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakpastian ekonomi global.


Meski demikian, Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter dinilai mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global, sehingga ekonomi nasional masih tumbuh sekitar 5 persen.


Karena itu, ia menilai berbagai penilaian negatif terhadap Indonesia tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian nasional.


“Kuartal kedua memang sedikit melambat dibanding kuartal pertama. Namun, saya memastikan pada semester II tahun ini pertumbuhan ekonomi dapat mendekati 6 persen,” tegasnya.


Optimisme tersebut juga disampaikan dalam rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,6 hingga 6 persen.


Purbaya mengakui perlambatan pada triwulan II tidak terhindarkan akibat tingginya ketidakpastian global dan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Di saat bersamaan, pemerintah juga harus menjaga kesehatan APBN.


Untuk mendorong pertumbuhan pada semester II, pemerintah bersama Bank Indonesia menyiapkan berbagai stimulus, termasuk insentif bagi kendaraan listrik yang akan diumumkan Presiden.


Selain itu, pemerintah memperkuat likuiditas sistem keuangan, memperbaiki iklim investasi, serta mempercepat belanja negara agar menjadi motor penggerak ekonomi.


Hingga akhir triwulan II 2026, realisasi belanja negara tercatat Rp1.656 triliun atau tumbuh 17,8 persen secara tahunan. Sementara pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, naik 21,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.


Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Anetta Komarudin, menilai kinerja APBN menunjukkan hasil positif. Menurutnya, peningkatan penerimaan negara mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus membaik.


“APBN kembali berfungsi sebagai shock absorber di tengah gejolak harga energi global,” ujarnya.


Realisasi subsidi dan kompensasi untuk BBM, LPG 3 kilogram, listrik, dan pupuk hingga pertengahan tahun tercatat mencapai Rp233 triliun.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit