BMKG Deteksi Sebaran Asap Mulai Masuk ke Banten, Dampak Kualitas Udara Masih Dipantau
SERPONG – Sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Banten, berdasarkan citra satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Meski demikian, dampak sebaran asap tersebut terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat di permukaan belum dapat dipastikan.
Ketua Bidang Meteorologi dan Klimatologi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Nely Ramah Kurniawati, mengatakan, indikasi sebaran asap itu teridentifikasi melalui analisis citra satelit Himawari-9 yang dikombinasikan dengan informasi meteorologi dan titik panas atau hotspot.
Berdasarkan citra pada Jumat (16/10) pukul 13.00 WIB, sebaran asap terpantau di sejumlah wilayah Indonesia. Untuk wilayah Banten, pergerakannya secara umum mengikuti aliran angin dari arah timur-tenggara menuju barat-barat laut.
Namun, keberadaan asap di atmosfer tidak serta-merta menunjukkan bahwa asap tersebut telah mencapai permukaan dan memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat.
“Perlu dipahami bahwa asap yang terdeteksi melalui citra satelit belum tentu telah mencapai permukaan dan secara langsung memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat,” ujarnya.
Nely menjelaskan, diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui potensi dampak sebaran asap tersebut. Analisis mencakup kondisi stabilitas atmosfer, arah dan kecepatan angin pada berbagai lapisan udara, serta hasil pengamatan kualitas udara di permukaan.
Kondisi atmosfer pada malam hingga pagi hari juga perlu diwaspadai. Pada periode tersebut, atmosfer cenderung lebih stabil sehingga polutan di dekat permukaan berpotensi terakumulasi, terutama ketika kecepatan angin relatif lemah.
Meski demikian, kondisi kualitas udara di Banten tidak hanya dipengaruhi oleh sebaran asap dari wilayah lain. Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran, serta berbagai kegiatan manusia juga dapat menjadi sumber polutan.
Karena itu, penurunan kualitas udara tidak bisa langsung dikaitkan dengan sebaran asap yang terpantau melalui citra satelit tanpa didukung pengukuran dan analisis tambahan.
Berdasarkan pemantauan meteorologi penerbangan atau METAR di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan Bandara Budiarto, kondisi yang teramati sejauh ini masih cenderung berupa haze atau kabut kering. Belum teramatinya kondisi smoke dalam pengamatan tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu dipertimbangkan dalam menilai kondisi di lapisan permukaan.
BMKG pun masih melakukan pemantauan dengan menggabungkan data satelit, observasi meteorologi, dan pengukuran kualitas udara untuk mengetahui perkembangan kondisi atmosfer di wilayah Banten.
Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi BMKG dan hasil pemantauan kualitas udara dari instansi terkait. Dengan demikian, perkembangan sebaran asap dan potensi dampaknya terhadap kualitas udara dapat diketahui berdasarkan data pengamatan yang memadai.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu




