AS Umumkan Tarif Impor Global: Indonesia 32 Persen

AS - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi mengumumkan daftar tarif impor yang menargetkan negara-negara di seluruh dunia, termasuk beberapa mitra dagang terdekatnya dan juga Indonesia tentunya, Rabu (2/4/2025). Langkah ini diyakini dapat memicu perang dagang yang merusak.
Di Rose Garden Gedung Putih, dengan latar belakang bendera AS, Trump mengumumkan tarif paling keras terhadap China dan Uni Eropa, dalam sebuah kesempatan yang disebutnya sebagai Hari Pembebasan.
Di tengah pengumuman ini, nilai tukar dolar jatuh satu persen terhadap euro dan merosot terhadap mata uang utama lainnya.
“Selama beberapa dekade, negara kita telah dijarah, dirampok, dan diperkosa oleh negara-negara dekat dan jauh, baik kawan maupun lawan,” kata Trump seperti dikutip AFP, Kamis (3/4/2025).
Trump memberikan pukulan terberat kepada negara-negara yang disebutnya telah memperlakukan AS dengan buruk.
Kepada China yang merupakan rival dagang utama, Trump mengenakan tarif 34 persen untuk barang-barang dari negara tersebut. Sekutu Utama Uni Eropa kebagian tarif 20 persen, sementara Jepang 24 persen. Bagaimana dengan Indonesia? Kena 32 persen.
Trump yang menunjukkan bagan berisi daftar pungutan, mengaku telah bersikap sangat baik, karena hanya mengenakan setengah dari jumlah pajak ekspor AS, yang ditetapkan oleh negara-negara tersebut.
Selebihnya, Trump mengenakan tarif dasar 10 persen, termasuk Inggris. Tarif universal ini akan berlaku efektif mulai 5 April mendatang.
Melansir BBC, negara-negara tertentu dapat dikenai tarif yang lebih tinggi hingga 50 persen, berdasarkan defisit perdagangan AS. Tarif tinggi ini akan berlaku mulai 9 April mendatang.
Para anggota kabinet, serta pekerja bertopi baja dari berbagai industri termasuk minyak dan gas, bersorak saat Trump mengatakan tarif baru ini akan membuat Amerika kaya kembali. "Ini adalah Hari Pembebasan," kata Trump.
Hari ini akan selalu dikenang sebagai hari ketika industri Amerika terlahir kembali, hari ketika takdir Amerika direbut kembali,” imbuhnya.
Tarif otomotif sebesar 25 persen yang diumumkan Trump pada pekan lalu, juga akan mulai berlaku pada Kamis (3/4/2025) pukul 12.01 dini hari waktu AS.
Zaman Keemasan
Trump telah lama mengisyaratkan penetapan tarif ini. Dia meyakini, tarif baru ini tak akan bisa membuat AS diperas oleh negara lain. Menurutnya, tarif baru ini justru akan memacu Zaman Keemasan baru bagi industri Amerika.
Namun, sejumlah pakar mengingatkan, penetapan tarif ini berisiko memicu resesi di dalam negeri, karena biaya dibebankan kepada konsumen AS. Di luar negeri, tarif ini akan mencetuskan perang dagang yang merugikan.
Dunia gelisah menjelang pengumuman Trump. Pasar dilaporkan tidak stabil , karena investor cenderung melakukan lindung nilai. Pengumuman itu muncul setelah saham Wall Street ditutup.
Tak cuma itu, tarif baru ini juga disebut akan memperkuat kekhawatiran bahwa Trump semakin menjauh dari sekutu AS, menuju tatanan baru yang didasarkan pada visi supremasi Amerika.
Mitra dagang AS sejauh ini telah bersumpah untuk melakukan pembalasan cepat, di samping mencoba membujuk Trump untuk mencapai kesepakatan, demi menghindari tarif sejak awal.
2 April lalu, Jerman mengingatkan, perang dagang dapat merugikan kedua belah pihak.
"Uni Eropa akan bereaksi terhadap tarif baru Trump, sebelum akhir April," kata seorang juru bicara pemerintah Prancis.
Serangan awal blok yang beranggotakan 27 negara itu akan melawan pengenaan tarif AS terhadap baja dan aluminium, diikuti tindakan sektor per sektor.
Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memastikan, perang dagang tidak menguntungkan siapa pun.
"Kami telah bersiap untuk segala kemungkinan. Kami tidak akan mengesampingkan apa pun,” tegasnya kepada Parlemen.
Kekhawatiran Resesi
Trump yang telah lama menyukai tarif, bersikeras di hadapan para ahli bahwa tarif adalah obat mujarab untuk ketidakseimbangan perdagangan dan penyakit ekonomi Amerika.
Trump percaya, pungutan tersebut akan melahirkan kembali kapasitas manufaktur Amerika yang telah kosong. Menurutnya, perusahaan dapat menghindari tarif tersebut dengan memindahkan lokasi pabriknya ke AS.
Namun, para kritikus mengatakan bahwa bisnis dan konsumen AS dapat menanggung beban, jika importir meneruskan biaya tersebut. Kebijakan ini dapat meningkatkan risiko resesi.
"Jika perang dagang ini berlanjut hingga Hari Buruh (pada tanggal 1 September), ekonomi AS kemungkinan akan mengalami resesi pada tahun ini," kata Kepala Ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi.
Negosiasi sepertinya akan berlanjut karena negara-negara terus berusaha menghentikan tarif.
Trump sebelumnya telah dibujuk untuk mengakhiri tarif pada negara tetangga Kanada dan Meksiko, sementara pembicaraan perdagangan terus berlanjut.
Trump menetapkan tarif impor pada Kanada dan Meksiko, karena kedua negara tersebut dianggap gagal menghentikan aliran opioid fentanil yang mematikan ke AS.
"Saya mengerti, ini adalah permainan tarik-menarik," kata pengemudi truk Alejandro Espinoza kepada AFP, saat menunggu dalam antrean untuk menyeberangi perbatasan Meksiko-AS.
"Tapi sayangnya, pada akhirnya, kamilah yang harus membayar," pungkasnya.
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu