TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Ubah Kayu Hanyut Jadi Huntara, UGM Bangun 550 Rumah untuk Korban Banjir Aceh

Reporter: Farhan
Editor: AY
Jumat, 16 Januari 2026 | 17:24 WIB
Huntara yang terbuat dari kayu untuk di Ceh Tamiang. Foto : Ist
Huntara yang terbuat dari kayu untuk di Ceh Tamiang. Foto : Ist

ACEH - Upaya pemulihan bagi warga penyintas banjir di Aceh terus dikebut melalui pembangunan hunian sementara (huntara). Tak tanggung-tanggung, Universitas Gadjah Mada (UGM) kini tengah mengembangkan inisiatif besar dengan menyiapkan hingga 550 unit huntara yang memanfaatkan kayu hanyut pascabencana. 

 

Langkah ini diambil sebagai respons atas kerusakan rumah warga yang masif di berbagai wilayah terdampak. Salah satu anggota Tim UGM, Ashar Saputra, mengungkapkan bahwa kebutuhan ratusan huntara ini merujuk pada kondisi riil di lapangan. 

 

Sebagai contoh di Desa Geudumbak, tercatat ada sekitar 430 rumah yang mengalami rusak berat hingga hancur total akibat terjangan banjir. Dari kebutuhan tersebut, sebanyak 330 unit huntara akan dibangun dengan dukungan pengolahan kayu dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara 120 unit lainnya difokuskan untuk wilayah Aceh Tamiang dengan kolaborasi bersama Kementerian Kehutanan.

 

"Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda yang kurang layak ke rumah yang sehat, aman, dan dapat menjalankan fungsi sebagai rumah keluarga," ujar Ashar dilansir laman resmi UGM, Kamis (15/1/2026).

 

Uniknya, pembangunan ini tidak hanya mengandalkan bantuan material, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga lokal. UGM menggandeng Rumah Zakat untuk melatih para tukang dari desa setempat. 

 

Dengan skema kerja kelompok, warga terlibat aktif membangun rumah mereka sendiri bersama pemilik rumah dan tetangga sekitar. Ashar menjelaskan bahwa UGM berperan dalam menyediakan teknologi rumah yang aman, sehat, namun tetap simpel dan cepat untuk dibangun oleh warga awam sekalipun.

 

Pemanfaatan kayu hanyut menjadi kunci efisiensi dalam program ini. Material kayu yang terbawa arus banjir dimanfaatkan agar tidak membusuk atau terbuang sia-sia. 

 

Dari sisi desain, huntara ini dirancang cukup luas dengan ukuran 6 x 6 meter yang memiliki dua kamar tidur privat, ruang keluarga atau dapur, serta teras. Untuk membangun satu unit rumah panggung, dibutuhkan sekitar 5 meter kubik kayu, sementara material pendukung seperti atap galvalum, paku, dan baut didatangkan dari luar lokasi.

 

Dalam skenario yang dirancang UGM, satu rumah idealnya dikerjakan oleh enam orang dalam waktu hanya empat hari. Meski pada tahap awal adaptasi lapangan membutuhkan waktu sekitar enam hari, tim optimis durasi tersebut bisa ditekan seiring bertambahnya pengalaman para tukang lokal. 

 

Dengan membentuk 15 kelompok tukang yang bekerja secara paralel, sebanyak 15 unit rumah dapat berdiri secara bersamaan dalam satu periode kerja.

Antusiasme warga pun sangat tinggi mengingat banyak dari mereka yang sudah bertahan di tenda pengungsian selama hampir 50 hari dalam kondisi yang kurang higienis. 

 

Namun, karena keterbatasan jumlah, penentuan siapa yang berhak mendapatkan rumah terlebih dahulu dilakukan melalui musyawarah atau rembuk gampong. Prioritas diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta anak yatim piatu agar bantuan benar-benar adil dan tepat sasaran.

 

Di balik detail teknis tersebut, terselip kisah haru dari keluarga Misran, salah satu penerima bantuan. Saat banjir melanda, Misran bersama lima anggota keluarganya, termasuk sang istri yang tengah hamil besar, harus bertahan hidup selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit hingga air surut. 

 

“Waktu itu kami hanya berusaha bertahan, dan sekarang sudah bisa kembali tinggal bersama keluarga di rumah yang lebih aman,” ungkapnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit