Sampah Jadi Berkah, Warga Cipayung Sulap Limbah Jadi Kompos yang Sangat Bermanfaat
CIPUTAT — Di tengah persoalan krisis sampah yang masih membelit Kota Tangerang Selatan, langkah warga RW 12 Kelurahan Cipayung layak menjadi contoh. Melalui pengelolaan terpadu di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), warga setempat berhasil mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman, bahkan mendatangkan nilai ekonomi.
Ketua RW 12 sekaligus pengelola TPS3R Cipayung, Wawan Ridwan mengatakan, pengolahan sampah organik menjadi kompos telah dilakukan sejak 2014. Inisiatif tersebut lahir dari kondisi penumpukan sampah yang sempat menjadi persoalan serius di wilayahnya.
“Dulu penumpukan sampah sangat parah. Tingginya bisa mencapai tujuh meter, dan ke bawah sekitar empat meter. Sampah sudah terlalu lama sehingga tidak bisa diolah dan akhirnya harus dibuang keluar wilayah,” ujar Wawan saat ditemui di TPS3R Cipayung, Rabu (14/1).
Berangkat dari pengalaman itu, warga RW 12 sepakat melakukan pemilahan sampah secara konsisten setiap hari. Dari sekitar satu kuintal sampah yang dihasilkan, sekitar 40 persen merupakan sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual. Sementara sampah organik diolah menjadi pupuk kompos.
“Sejak 2014 kami fokus memilah sampah setiap hari. Sampah organik kami olah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik kami pilah untuk dijual kembali,” jelasnya.
Tak hanya kompos, warga RW 12 juga memanfaatkan residu sampah secara maksimal. Abu sisa pembakaran residu digunakan sebagai campuran tanah di lahan pertanian karena kondisi tanah setempat yang cenderung merah dan lengket.
Hasil pupuk kompos yang diproduksi tidak hanya dimanfaatkan oleh warga, tetapi juga digunakan di lahan pertanian yang dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT) RW 12. Bahkan, kompos tersebut kerap diminati pihak luar, termasuk dari luar daerah, terutama untuk kebutuhan awal pengolahan lahan pertanian.
“Walaupun harganya tidak mahal, kompos ini sangat dibutuhkan. Ada yang membeli, ada juga yang kami gunakan sendiri. Kalau manajemennya bagus, sebenarnya tumpukan sampah itu bukan masalah, tapi justru peluang. Bukan pusing, tapi cuan,” ucap Wawan.
Selain kompos, RW 12 Cipayung juga mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik. Metode ini dinilai lebih efektif dan efisien karena mampu mengurai sampah dalam waktu singkat.
“Dengan maggot, hasilnya luar biasa. Dalam waktu sekitar 10 hari, sampah organik sudah kering dan menghasilkan maggot berkualitas. Bau, panas, dan basahnya habis. Hasilnya juga bernilai ekonomi,” tuturnya.
Maggot kering yang telah diolah dan diayak menjadi pupuk kasgot bahkan dapat dijual dengan harga sekitar Rp25 ribu per kilogram. Sementara sisa sampah kering lainnya kembali diolah atau dipilah untuk dijual.
Dengan sistem tersebut, timbulan sampah di RW 12 dapat dihabiskan setiap hari. Hasil penjualan kompos, maggot, dan sampah anorganik dimanfaatkan untuk operasional TPS3R, kesejahteraan petugas, serta mendukung kegiatan lingkungan di wilayah tersebut.
Smeenyara di lokasi yang sama, Lurah Cipayung, Dini Nurlianti, menyampaikan apresiasi atas inovasi dan konsistensi warga RW 12 dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Menurutnya, apa yang dilakukan warga menjadi bukti bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan dari tingkat lingkungan.
“Apa yang dilakukan warga RW 12 ini sangat luar biasa. Mereka tidak hanya mampu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Ini adalah praktik baik yang patut dijadikan contoh,” ujar Dini.
Dini menegaskan, Kelurahan Cipayung senantiasa mendukung inovasi yang dihadirkan warganya melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang bersumber dari dana kelurahan.
“Salah satu contohnya adalah budidaya maggot di RW 12 ini. Kegiatan tersebut berawal dari program pelatihan pemberdayaan masyarakat. RW ini menjadi salah satu peserta, dan berkat keuletan serta keseriusan warganya, budidaya maggotnya berhasil dan berkembang,” jelasnya.
Selain itu, Kelompok Wanita Tani (KWT) di RW 12 juga dinilai berhasil memanfaatkan hasil pengolahan sampah untuk pertanian dan perikanan. Budidaya ikan lele yang dikelola warga bahkan telah beberapa kali panen dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah bisa terintegrasi dengan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan warga,” tambahnya.
Ke depan, Dini berharap inovasi yang dilakukan RW 12 Cipayung dapat direplikasi oleh wilayah lain di Kota Tangerang Selatan.
“Kami berharap semangat dan kemandirian seperti ini bisa menular ke RW lainnya. Jika semakin banyak warga yang bergerak dan peduli, persoalan sampah di Tangsel dapat kita atasi bersama,” pungkasnya.
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Politik | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu


