Tekan Sampah dari Rumah, Warga Pamulang Timur Didorong Kembangkan Budidaya Maggot
PAMULANG—Warga Kelurahan Pamulang Timur didorong mengembangkan budidaya maggot sebagai upaya menekan volume sampah rumah tangga sejak dari sumbernya. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi sampah organik sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengatakan, budidaya maggot menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah yang murah, cepat, dan berkelanjutan. Selain mampu mengurai sampah organik dengan cepat, maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, ikan, hingga bahan baku pertanian.
“Pakan maggot itu gratis, dari sampah kita sendiri. Tinggal bagaimana kita kelola dan pastikan ada pasar yang menyerap hasilnya,” ujar Pilar, Kamis (29/1).
Menurut Pilar, pelatihan budidaya maggot kepada masyarakat merupakan bagian penting dari strategi pengurangan sampah dari hulu. Sisa makanan dan sampah organik rumah tangga yang selama ini berakhir di tempat pembuangan dapat diolah kembali sehingga volume sampah yang dibuang dapat ditekan.
Pilar menekankan, pengelolaan sampah berbasis maggot harus berjalan seiring dengan penguatan bank sampah di setiap lingkungan. Ia mendorong agar setiap RW memiliki dan mengaktifkan bank sampah sebagai simpul pengelolaan sampah warga.
“Kalau bank sampah sudah ada, harus disukseskan. Kalau belum ada, harus dibentuk. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.
Sementara itu, Lurah Pamulang Timur Ade Heri Sutiawan mengatakan, kegiatan budidaya maggot di wilayahnya menjadi sarana silaturahmi sekaligus penguatan koordinasi antarbank sampah se-kelurahan Pamulang Timur.
Saat ini, tercatat sebanyak 27 bank sampah telah terbentuk dan aktif di wilayah Pamulang Timur. Pelatihan budidaya maggot digelar sebagai upaya konkret mengurai sampah rumah tangga dari hulu di tengah kondisi darurat sampah di Kota Tangerang Selatan.
“Budidaya maggot ini salah satu cara bagaimana kita mengurai sampah rumah tangga, terutama dari rumah tangga itu sendiri. Paling tidak kita bisa membantu mengurangi beban sampah yang saat ini memang darurat di Tangsel,” ujar Ade.
Ia berharap ke depan, budidaya maggot tidak hanya dilakukan oleh pengurus bank sampah, tetapi juga dapat diterapkan di setiap RW. Dengan begitu, pengurangan sampah dapat dilakukan langsung di lingkungan warga.
“Harapannya bukan hanya bank sampah yang berjalan, tetapi masyarakat di seluruh RW juga bisa melaksanakan budidaya maggot,” jelasnya.
Ade menjelaskan, sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik, maupun pakan maggot. Sementara sampah nonorganik tetap dikelola melalui bank sampah. Dengan pola tersebut, sampah rumah tangga yang dikirim untuk diangkut petugas hanya menyisakan residu.
“Ke depan, sampah yang dihasilkan rumah tangga tinggal residunya saja yang diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup,” ungkapnya.
Nasional | 8 jam yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu


