Kapal AS & Thailand Ditembak, Selat Hormuz Sulit Dilewati
IRAN - Setelah resmi ditutup, Selat Hormuz kian sulit dilalui dan jadi jalur berbahaya. Kapal dagang berbendera Amerika Serikat dan Thailand dilaporkan ditembak saat coba melintas di jalur pelayaran vital tersebut.
Sejumlah laporan media internasional menyebut sedikitnya belasan kapal komersial mengalami kerusakan akibat serangan Iran sejak perang melawan Amerika Serikat dan Israel meletus pada 28 Februari 2026. Salah satunya adalah kapal tanker berbendera Amerika Serikat, Stena Imperative, yang dilaporkan menjadi sasaran serangan udara pada Senin (2/3/2026).
Dilansir CBS News, kapal tersebut dihantam proyektil yang diduga berasal dari pesawat nirawak (drone) atau rudal milik pasukan Iran. Akibat serangan itu, seorang pekerja pelabuhan dilaporkan tewas.
Serangan kemudian berlanjut. Pada Rabu (11/3/2026), giliran kapal kargo berbendera Thailand, MV Mayuree Naree, juga terkena serangan saat melintas di Selat Hormuz.
Kapal bulk carrier tersebut dilaporkan terkena dua proyektil setelah mengisi muatan di Uni Emirat Arab. Ledakan terjadi di ruang mesin kapal hingga membuat lambung depan mengeluarkan asap hitam.
Operator kapal, Precious Shipping, menyatakan saat serangan terjadi terdapat 23 awak kapal di atas kapal. Sebanyak 20 orang berhasil diselamatkan oleh otoritas Oman, sementara tiga awak lainnya masih menunggu proses evakuasi.
“Tiga anggota kru dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin,” kata perusahaan tersebut, seperti dilansir Reuters, Kamis (12/3/2026).
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan setiap kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz harus memperoleh persetujuan dari Iran. Jika tidak, kapal tersebut berpotensi menjadi sasaran serangan seperti yang terjadi pada Mayuree Naree dan Express Rome.
Kapal Express Rome milik Israel yang mengibarkan bendera Liberia dan kapal kontainer Mayuree Naree terkena proyektil Iran dan berhenti setelah mengabaikan peringatan dari pasukan angkatan laut IRGC,” kata Garda Revolusi dalam pernyataan yang dimuat kantor berita Iran ISNA, seperti dilansir Agence France-Presse, Kamis (12/3/2026).
Secara terpisah, Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, mengejek janji pemerintah AS yang menyatakan akan mengawal serta melindungi kapal-kapal yang melintas di jalur perairan strategis tersebut. Ia menyebut janji itu sebagai “janji kosong”.
“Apakah kapal-kapal itu dijamin dapat melintas dengan aman melalui Selat Hormuz? Pertanyaan ini seharusnya diajukan kepada awak kapal Express Rome dan Mayuree Naree yang mempercayai janji kosong dan akhirnya tertangkap,” ujar Tangsiri, seperti dikutip Press TV.
Tangsiri juga mengancam tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun melewati Selat Hormuz untuk Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Setiap kapal atau kargo minyak yang dimiliki pihak-pihak tersebut akan dianggap sebagai target sah.
“Setiap kapal yang berniat melintas harus memperoleh izin dari Iran,” ujarnya.
Sebelumnya, IRGC juga menetapkan syarat bagi negara-negara yang ingin kapal tanker minyaknya melintasi Selat Hormuz dengan aman. Melalui pengumuman yang ditayangkan televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), IRGC menuntut negara-negara tersebut mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka sebagai jaminan keamanan.
“Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok,” demikian pengumuman IRGC pada Senin (9/3/2026).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sempat merespons aktivitas Iran menebar ranjau di Selat Hormuz. Menurut laporan CBS, persediaan ranjau Iran diperkirakan mencapai antara 2.000 hingga 6.000 unit.
“Jika Iran benar-benar menebar ranjau di Selat Hormuz, kami berharap ranjau tersebut segera disingkirkan,” ujar Trump melalui platform Truth Social miliknya.
Trump juga memperingatkan Iran untuk membersihkan ranjau tersebut.
“Jika ranjau dipasang dan tidak segera disingkirkan, Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” tandasnya.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan seluruh kapal Thailand kini telah meninggalkan area Selat Hormuz. Wakil juru bicara kementerian tersebut, Panidol Patchimsawat, mengatakan pemerintah telah mengajukan protes resmi.
“Kementerian Luar Negeri, melalui Kedutaan Besar Kerajaan Thailand di Muscat, terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Oman dan instansi terkait sepanjang malam untuk memberikan bantuan kepada awak kapal Thailand,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan Angkatan Laut Oman berhasil menyelamatkan 20 awak kapal dan membawa mereka ke darat di wilayah Khasab.
“Seluruhnya selamat, dan tim pencari saat ini sedang dikerahkan untuk menemukan tiga awak kapal yang masih hilang,” katanya.
Panidol juga mengungkapkan Kedutaan Besar Thailand di Muscat telah berkomunikasi langsung dengan kapten kapal. Tidak ada dari 20 awak yang mengalami cedera serius, meski mereka membutuhkan dukungan psikologis.
“Mohon diyakini bahwa kami sedang dalam misi untuk menemukan tiga orang yang hilang tersebut,” tandasnya
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



