TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Perokok Indonesia Tembus 74 Juta Orang, Rata-rata Hisap 4.000 Batang Rokok per Tahun

Reporter & Editor : AY
Jumat, 30 Januari 2026 | 15:51 WIB
Ikustrasi. Foto : Ist
Ikustrasi. Foto : Ist

SERPONG – Konsumsi rokok di Indonesia terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Jumlah perokok laki-laki tercatat mencapai 63,2 juta jiwa, sementara perokok perempuan sekitar 11,6 juta jiwa.

 

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Tati Suryati, menyebut tingginya konsumsi rokok membuat risiko penyakit muncul lebih cepat akibat efek dosis respons.

 

“Perokok pria Indonesia menyumbang lebih dari 50 persen populasi perokok di Asia Tenggara, sehingga beban penyakit berpotensi lebih besar dibanding negara lain,” ujarnya.

 

Data Global Burden of Disease (GBD) 2021 menunjukkan tren perokok remaja (10–15 tahun) dan dewasa (15+) terus meningkat selama tiga dekade terakhir. Rata-rata perokok Indonesia menghabiskan sekitar 4.190 batang rokok per tahun.

 

Di kawasan ASEAN, terdapat 33,1 juta pria yang merokok lebih dari 15 batang per hari. Indonesia menyumbang lebih dari 15 juta perokok berat dalam kategori ini.

 

Beban Kesehatan dan Ekonomi

Dampak terbesar tembakau adalah penyakit kardiovaskular dengan angka kematian 59,60 per 100.000 penduduk. Kerugian kesehatan juga diukur melalui Disability-Adjusted Life Years (DALYs), dengan total sekitar 5,4 juta tahun produktif hilang.

 

Secara ekonomi, kerugian akibat konsumsi tembakau pada 2019 diperkirakan mencapai Rp184,36–Rp410,76 triliun atau setara 1,16–2,59 persen PDB. Sementara itu, biaya perawatan penyakit terkait rokok yang ditanggung BPJS Kesehatan mencapai Rp10,4–Rp15,6 triliun.

 

Tantangan Pengendalian

Meski 83 persen daerah telah memiliki aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), paparan asap rokok masih tinggi. Sekitar 50,53 persen remaja non-perokok terpapar asap rokok di sekolah dan 46,18 persen di rumah.

 

Tati menegaskan konsumsi tembakau bukan sekadar gaya hidup, tetapi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, stabilitas fiskal, dan keberlanjutan jaminan kesehatan nasional. Penguatan layanan kesehatan primer dan kebijakan pengendalian tembakau yang lebih tegas dinilai mendesak.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit