Iran Batasi Selat Hormuz: Kapal “Musuh” Dilarang Melintas, Non-Afiliasi Diizinkan
IRAN – Pemerintah Iran resmi membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, namun dengan syarat ketat. Kapal-kapal yang dianggap berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel tetap dilarang melintas di jalur strategis tersebut.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa hanya kapal yang tidak terkait dengan pihak yang dianggap “agresor” yang diperbolehkan melintas.
“Iran telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan pelayaran di jalur ini dan akan melakukan koordinasi bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor,” ujar Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh perwakilan diplomatik Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka menegaskan bahwa kapal non-musuh tetap dapat melintas dengan aman selama mematuhi aturan keselamatan dan tidak terlibat dalam aksi yang merugikan Iran.
Tarif Transit dan Kendali Iran
Di tengah konflik yang memanas, Iran juga mulai menerapkan tarif transit sebesar 2 juta dolar AS bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk kedaulatan Iran atas jalur laut strategis dunia.
Langkah ini dilaporkan oleh sejumlah media internasional, termasuk Bloomberg dan Lloyd’s List Intelligence. Sejumlah kapal tanker disebut telah mulai mematuhi kebijakan tersebut, meskipun mekanisme teknisnya belum sepenuhnya dijelaskan.
Arus Minyak Mulai Pulih
Setelah sempat terganggu akibat konflik, aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz mulai meningkat. Saat ini, sekitar 8 juta barel minyak per hari telah kembali mengalir dari kawasan Teluk Persia.
Beberapa negara seperti China, India, Turki, Pakistan, dan Thailand diketahui telah melakukan koordinasi langsung dengan otoritas Iran untuk memastikan kelancaran pelayaran mereka.
Ketegangan Militer Meningkat
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 terus memanas. Ribuan korban jiwa dilaporkan jatuh, sementara infrastruktur militer dan sipil mengalami kerusakan parah.
Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS dilaporkan akan mengerahkan pasukan tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan Timur Tengah. Menurut laporan The Wall Street Journal dan Reuters, jumlah pasukan yang dikirim berkisar antara 3.000 hingga 4.000 personel.
Militer AS juga mempertimbangkan opsi pengamanan Selat Hormuz, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan ke wilayah pesisir Iran hingga ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak negara tersebut.
Iran pun memberikan peringatan keras. Pengerahan pasukan tambahan AS disebut tidak akan mengubah situasi, justru berisiko memicu konfrontasi langsung yang lebih luas.
Jalur Vital Dunia dalam Sorotan
Sebagai salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, Selat Hormuz sebelumnya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Kebijakan pembatasan oleh Iran kini menjadi perhatian global karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu











