TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Gencatan Senjata Berakhir, AS–Iran Buntu: Ancaman Konflik Kembali Memanas

Reporter & Editor : AY
Rabu, 22 April 2026 | 10:25 WIB
Ilustrasi bendera AS-Iran. Foto : Ist
Ilustrasi bendera AS-Iran. Foto : Ist

AS - Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran resmi berakhir pada Rabu (22/4/2026), tanpa kesepakatan baru. Hingga detik terakhir, kedua negara masih terjebak dalam kebuntuan (deadlock), memicu kekhawatiran konflik akan kembali memanas.

 

Kesepakatan penghentian sementara serangan yang dimulai sejak 7 April lalu hanya bertahan dua pekan. Masa jeda tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk membuka jalan damai, namun negosiasi yang berlangsung belum menghasilkan titik temu.

 

Presiden AS Donald Trump memberi sinyal pesimistis terhadap kelanjutan gencatan senjata. Ia bahkan menyebut kecil kemungkinan perpanjangan jika pembicaraan lanjutan tidak membuahkan hasil.

 

“Sangat tidak mungkin saya akan memperpanjangnya,” ujar Trump, seperti dikutip Bloomberg.

 

Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap keras. Teheran menilai Washington tidak konsisten dan kerap melanggar kesepakatan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya tidak akan berunding di bawah tekanan militer.

“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” tegasnya.

 

Ia juga menyatakan Iran telah menyiapkan “kartu baru” di medan perang sebagai respons jika situasi terus memburuk.

 

Meski situasi diplomasi buntu, Amerika Serikat tetap melanjutkan upaya negosiasi. Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi ke Islamabad, Pakistan, dalam putaran lanjutan perundingan. Namun hingga kini, kehadiran perwakilan Iran masih belum pasti.

 

Sementara itu, ketegangan di lapangan terus meningkat, terutama di kawasan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia. Militer AS memperketat pengawasan dengan mengerahkan kapal perang dan memeriksa kapal-kapal yang dicurigai terkait Iran.

 

Langkah tersebut dinilai menyerupai blokade laut dan memicu reaksi keras dari Teheran. Iran menuding tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

 

Salah satu insiden terbaru terjadi saat kapal kargo Iran, Touska, disergap di Teluk Oman. Militer AS menghentikan kapal tersebut setelah tidak merespons peringatan, lalu mengambil alih kendali.

 

Iran langsung mengecam keras tindakan itu dan menyebutnya sebagai “pembajakan”. Sebagai respons, Teheran dilaporkan meluncurkan serangan drone ke sejumlah kapal AS, meski belum ada laporan resmi terkait dampaknya.

 

Dengan berakhirnya gencatan senjata dan belum adanya kesepakatan baru, risiko eskalasi konflik kini semakin besar. Dunia pun menanti apakah jalur diplomasi masih bisa menyelamatkan situasi, atau justru konflik akan kembali terbuka.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit