Erick Thohir Apresiasi Perdamaian Dua Pemain Muda
JAKARTA — Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan komitmennya untuk memberantas segala bentuk diskriminasi dalam sepak bola nasional. Ia menekankan bahwa ucapan maupun tindakan rasis tidak memiliki tempat, baik di level pembinaan usia dini hingga profesional.
Menurutnya, pembinaan pemain muda harus mengedepankan sportivitas di atas hasil akhir. Selain kemampuan teknis, pemain juga dituntut memiliki karakter kuat, disiplin, serta mampu mengendalikan emosi di tengah tekanan pertandingan.
Erick menyebut ajang Elite Pro Academy (EPA) bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang pembentukan mental dan nilai-nilai positif seperti fair play, toleransi, dan penghormatan terhadap wasit.
“Sepak bola harus bersih dari rasisme. Sejak dini, pemain harus dibentuk dengan nilai sportivitas dan saling menghargai,” ujarnya.
Terkait insiden yang melibatkan Fadly Alberto Henga dan Rakha Nurkholis, Erick mengapresiasi langkah damai yang difasilitasi oleh Bhayangkara FC dan Dewa United. Ia menilai penyelesaian tersebut menjadi contoh baik bagi dunia sepak bola Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa persatuan tetap diutamakan. Perbedaan bukan penghalang, justru menjadi kekuatan untuk bersama-sama berjuang demi Indonesia,” tegasnya.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 16 jam yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



