TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

IHSG Ambruk Lebih dari 4 Persen, Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS Picu Kepanikan Pasar

Reporter & Editor : AY
Kamis, 04 Juni 2026 | 08:16 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 4,11 persen ke level 5.941,06, menandai salah satu koreksi terdalam sepanjang tahun ini.


Sejak awal perdagangan, tekanan jual sudah mendominasi pasar. Pada penutupan sesi pertama, IHSG terperosok 4,94 persen ke posisi 5.899,48. Pelemahan bahkan sempat menyentuh 5,15 persen pada pukul 13.40 WIB ketika indeks berada di level 5.859,15.


Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 752 saham terkoreksi, hanya 38 saham menguat, sementara 169 saham lainnya bergerak stagnan. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang terjadi hampir di seluruh sektor pasar.


Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan tajam IHSG dipicu kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS menjadi faktor utama yang menekan kepercayaan investor.

 

Selain itu, menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menjadi hanya 89,1 juta dolar AS turut menambah kekhawatiran pasar. Kondisi tersebut menunjukkan melambatnya kontribusi sektor eksternal yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi nasional.


“Pelaku pasar saat ini juga masih menunggu hasil rebalancing indeks FTSE Russell yang akan efektif berlaku pada 22 Juni mendatang. Faktor tersebut meningkatkan potensi volatilitas di pasar saham,” ujar Nafan.


Dari eksternal, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya hubungan Amerika Serikat dan Iran serta operasi militer Israel di Lebanon, mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.


Pengamat pasar modal Elandry Pratama menambahkan, aksi jual terjadi cukup merata, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan terhadap pergerakan indeks.


“Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah,” jelasnya.


Meski demikian, Elandry menilai kondisi saat ini lebih mencerminkan aksi pengurangan risiko jangka pendek dibanding perubahan fundamental terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Sejalan dengan pelemahan pasar saham, nilai tukar rupiah juga berada di bawah tekanan. Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah melemah 127 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.966 per dolar AS.


Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, serta ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan.
Tekanan juga datang dari kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi, dividen, dan utang luar negeri yang jatuh tempo. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp600 triliun.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan likuiditas valuta asing tetap memadai.

 

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas pasar keuangan.


Sebagai bagian dari langkah stabilisasi, BI kembali menurunkan batas pembelian valuta asing tanpa dokumen underlying dari 50 ribu dolar AS menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 2 Juni 2026.


Selain itu, BI terus memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra, antara lain China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meminimalkan risiko gejolak nilai tukar.


Meski pasar tengah bergejolak, sejumlah analis masih memproyeksikan IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi dalam beberapa bulan ke depan, terutama apabila stabilitas rupiah mulai terjaga dan tekanan global berangsur mereda.

 

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit