TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Marathon Disebut Bisa Memicu Risiko Jantung, Benarkah? Ini Penjelasan Ahli

Reporter: Farhan
Editor: AY
Selasa, 16 Juni 2026 | 14:43 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

SERPONG - Half marathon hingga full marathon kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Selain menantang kemampuan fisik, ajang lari jarak jauh juga menjadi ruang untuk membangun komunitas dan merayakan pencapaian pribadi. Media sosial pun ramai dengan unggahan medali, momen garis finis, hingga cerita perjuangan para pelari selama masa persiapan.


Namun, di balik tren tersebut muncul pertanyaan: benarkah marathon dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung?


Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi, Dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), menjelaskan bahwa lari jarak jauh memang dapat memicu peningkatan hormon adrenalin secara signifikan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh bekerja dalam durasi panjang dengan denyut jantung tinggi.


Menurutnya, pada orang yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan irama jantung, lonjakan tersebut dapat memunculkan gangguan ringan hingga berat, mulai dari kontraksi dini (premature contraction) sampai atrial fibrilasi.


Selain itu, saat berlari tubuh akan kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui keringat. Jika tidak segera digantikan, kekurangan natrium dan kalium dapat memengaruhi sistem kelistrikan jantung dan memicu gangguan irama.


“Dehidrasi yang tidak diimbangi rehidrasi juga dapat memperberat kerja jantung,” jelas Bobby.


Pada atlet atau individu yang rutin menjalani olahraga endurance intensitas tinggi, aktivitas marathon dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan perubahan struktur jantung, seperti pembesaran dan fibrosis pada atrium.


Apakah Marathon Berbahaya?


Bobby menegaskan, marathon tidak berbahaya bagi sebagian besar orang. Gangguan irama jantung hanya terjadi pada sebagian kecil peserta. Meski demikian, tantangannya adalah seseorang tidak selalu mengetahui apakah dirinya termasuk kelompok yang berisiko atau tidak.


Karena itu, sebelum mengikuti event marathon, ada beberapa langkah yang disarankan:


1. Lakukan Medical Check Up
Periksa tekanan darah, gula darah, EKG dasar, treadmill test (idealnya CPET), dan echocardiography sesuai rekomendasi dokter.


2. Persiapkan Latihan Secara Bertahap
Jangan mengikuti marathon tanpa latihan yang cukup dan pendampingan yang tepat.


3. Dengarkan Sinyal Tubuh
Jika muncul nyeri dada, sesak berat, jantung berdebar, atau sensasi hampir pingsan saat berlari, segera hentikan aktivitas dan cari bantuan medis.


4. Tetap Konsumsi Obat Rutin
Bagi peserta yang memiliki hipertensi, diabetes, atau penyakit kronis lainnya, jangan melewatkan obat sebelum mengikuti lomba.


Pada akhirnya, marathon bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kuncinya adalah mengenali kondisi tubuh, melakukan persiapan yang matang, dan tidak memaksakan diri.
Event masih banyak, tetapi kesehatan hanya satu.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit