TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Ketegangan Timur Tengah Memanas Lagi, Selat Hormuz Dikabarkan Kembali Terganggu

Reporter: Farhan
Editor: AY
Senin, 22 Juni 2026 | 08:46 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

IRAN - Belum genap dua hari setelah sempat dibuka kembali, Selat Hormuz dilaporkan kembali mengalami gangguan setelah Iran mengambil langkah pengetatan. Kebijakan ini disebut sebagai respons atas serangan Israel yang masih terus menggempur wilayah Lebanon. Dampaknya, arus distribusi minyak dunia kembali terganggu dan harga minyak berpotensi melonjak.


Sebelumnya, blokade di Selat Hormuz sempat dilonggarkan pada Jumat (19/6/2026) setelah tercapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump bahkan menandatangani nota kesepahaman tersebut di sela-sela KTT G7 di Paris, Prancis, pada Kamis (18/6/2026).


Namun, kesepakatan itu dinilai belum berjalan sepenuhnya. Israel disebut masih melanjutkan serangan ke Lebanon, yang memicu reaksi keras dari Iran sebagai sekutu Lebanon. Teheran menilai Washington gagal menekan sekutunya untuk menghentikan operasi militer sesuai kesepakatan gencatan senjata.


Militer Iran kemudian mengumumkan langkah pengetatan di Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Komando Militer Pusat Khatam Al Anbiya menyebut serangan Israel ke Lebanon sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang baru dicapai.


“Langkah ini merupakan respons awal atas pelanggaran janji. Jika agresi terus berlanjut, tindakan lebih lanjut akan diambil untuk memaksa pihak lawan memenuhi kewajibannya,” demikian pernyataan resmi Iran, dikutip AFP.


Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Iran telah memenuhi seluruh komitmennya dalam kesepakatan tersebut. Ia menuntut AS untuk menekan Israel agar menghentikan serangan.


Namun, AS membantah adanya penutupan Selat Hormuz. Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengatakan jalur pelayaran internasional itu tetap terbuka dan berada di bawah pengawasan militer AS.


“Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Pasukan AS memantau situasi untuk memastikan jalur tetap aman,” ujarnya kepada Axios.


CENTCOM juga menyebut aktivitas pelayaran masih berjalan normal, dengan puluhan kapal niaga melintas membawa jutaan barel minyak.


Wakil Presiden AS JD Vance turut menegaskan bahwa tidak ada indikasi gangguan signifikan di Selat Hormuz. Ia menyebut arus perdagangan minyak justru meningkat setelah kesepakatan damai dicapai.


Sementara itu, ketegangan di lapangan masih berlanjut. Serangan udara Israel di Lebanon selatan dan wilayah Lembah Bekaa pada Sabtu (20/6/2026) dilaporkan menewaskan puluhan orang dan melukai sejumlah lainnya.


Militer Israel menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas serangan dari kelompok bersenjata di Lebanon selatan, dengan sasaran utama posisi Hizbullah. Namun, pihak Hizbullah membantah tuduhan tersebut.


Di tengah eskalasi situasi, AS dan Iran juga dilaporkan melanjutkan perundingan teknis di Swiss untuk meredakan konflik dan menjaga kesepakatan gencatan senjata tetap berjalan.


Ketegangan ini turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia tercatat kembali menguat, dengan Brent naik menjadi 80,38 dolar AS per barel dan WTI ke 77,54 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan terakhir.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit