Trump Teken Jumat, Perdamaian AS–Iran Disambut Dunia: Harapan Baru untuk Stabilitas Global
AS - Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari 2026. Penandatanganan perjanjian tersebut dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6), dan langsung mendapat sambutan positif dari berbagai negara.
Kabar awal mengenai tercapainya kesepakatan disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Senin (15/6). Menurutnya, Washington dan Teheran sepakat menghentikan konflik secara permanen di seluruh wilayah yang terdampak, termasuk Lebanon.
Kesepakatan itu disebut tercapai melalui proses mediasi Qatar dengan dukungan Arab Saudi dan Turki.
“Kami mengapresiasi komitmen Amerika Serikat dan Republik Islam Iran yang memilih jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik,” ujar Sharif.
Pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kabar tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan penghentian perang berlaku secara permanen dan mencakup seluruh lini konflik.
Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan tercapainya kesepakatan melalui akun Truth Social miliknya.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak,” tulis Trump.
Trump turut mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade laut AS. Langkah ini dipandang sebagai sinyal pemulihan perdagangan dan distribusi energi global.
Dalam pernyataannya di Evian-les-Bains, Prancis, Trump menegaskan salah satu poin utama kesepakatan adalah komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Meski rincian resmi perjanjian belum dipublikasikan, sejumlah laporan menyebut isi kesepakatan mencakup pencairan aset Iran bernilai miliaran dolar AS, pelonggaran sanksi minyak, pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz, pengaturan program nuklir, hingga pengurangan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi.
Respons positif datang dari berbagai pemimpin dunia.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut hasil tersebut sebagai langkah penting untuk menjaga keamanan kawasan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai kelancaran pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi stabilitas ekonomi global.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyebut perjanjian ini sebagai momentum menuju perdamaian dan kestabilan jangka panjang di kawasan.
China menyatakan dukungan terhadap proses perdamaian dan berharap seluruh pihak tetap menjaga komitmen dialog.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri turut menyambut baik perkembangan tersebut dan mendorong semua pihak menjaga momentum deeskalasi.
Pengamat menilai, bila implementasi berjalan sesuai kesepakatan,
perdamaian AS–Iran berpotensi menekan harga minyak dunia sekaligus memperlancar jalur perdagangan internasional yang selama ini bergantung pada keamanan Selat Hormuz.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 4 jam yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Olahraga | 17 jam yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



