TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Gencarkan Satu Rumah Satu Jumantik, Tangsel Tekan Kasus DBD dan Pertahankan Nol Kematian

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Kamis, 25 Juni 2026 | 13:32 WIB
Gebyar Jumantik dalam rangka ASEAN Dengue Day 2026 di Puspemkot Tangsel, Kamis (25/6). (tangselpos.id/rmn)
Gebyar Jumantik dalam rangka ASEAN Dengue Day 2026 di Puspemkot Tangsel, Kamis (25/6). (tangselpos.id/rmn)

CIPUTAT — Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) sebagai upaya menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Strategi tersebut dinilai efektif menjaga tren penurunan kasus DBD sekaligus mempertahankan nol kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tangsel, jumlah kasus DBD dalam tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan. Pada 2024 tercatat sebanyak 754 kasus, kemudian turun menjadi 648 kasus pada 2025. Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 209 kasus.

 

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader jumantik, hingga masyarakat di tingkat lingkungan.

 

Menurutnya, gerakan pengendalian DBD di Tangsel telah berjalan sejak lama. Program tersebut berawal dari inisiatif masyarakat di Pamulang Barat dan Pamulang Timur yang membentuk kelompok Juru Pemantau Jentik (Jumantik) pada 2016.

 

“Ini adalah akumulasi dari seluruh kolaborasi antara pemerintah, petugas kesehatan, masyarakat, kemudian juga lurah, RW dan RT. Alhamdulillah hasilnya angka keterjangkitan DBD di Tangerang Selatan terus cenderung menurun,” ujar Benyamin saat menghadiri Gebyar Jumantik dalam rangka ASEAN Dengue Day 2026 di Puspemkot Tangsel, Kamis (25/6).

 

Benyamin mengakui kasus DBD tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya. Namun, pemerintah berupaya menekan dampak terburuknya, yakni kematian akibat DBD.

 

“Yang itu memang tidak bisa kita nolkan, hanya bisa kita batasi. Tetapi yang bisa kita nolkan adalah tingkat kematian akibat DBD-nya,” katanya.

 

Ia mengungkapkan, sejak 2024 hingga saat ini Tangsel berhasil mencatatkan nol kematian akibat DBD. Capaian tersebut diperoleh melalui berbagai intervensi, mulai dari edukasi masyarakat, penguatan pemantauan jentik, hingga pemberantasan sarang nyamuk secara berkelanjutan.

 

Karena itu, Benyamin berharap Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik tidak sekadar menjadi program pemerintah, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan tempat tinggal.

 

Melalui gerakan tersebut, setiap rumah didorong secara mandiri memeriksa lokasi yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk, seperti bak mandi, wadah penampungan air, area bawah dispenser, hingga tempat-tempat lain yang menampung air bersih.

 

“Ini harus menjadi gerakan bersama. Kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang jentik sangat penting,” tegasnya.

 

Selain itu, Pemkot Tangsel juga terus menjalankan program sertifikasi RW Bebas Jentik. Penilaian dilakukan melalui survei lapangan tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk memastikan kondisi lingkungan benar-benar terbebas dari jentik nyamuk.

 

Menurut Benyamin, wilayah yang belum mencapai target akan menjadi bahan evaluasi bagi camat, lurah, hingga pengurus lingkungan setempat.

 

“Ini menjadi evaluasi bagi camat dan lurah serta RW yang masih belum 100 persen bebas jentik nyamuk. Ini harus menjadi motivasi dan gerakan bersama semua pihak,” ujarnya.

 

Sementara itu, Tim Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD yang diketuai oleh Sekretaris Daerah Kota Tangsel, Bambang Noertjahjo, mengatakan program sertifikasi RW Bebas Jentik telah disusun dalam roadmap hingga 2030 sebagai bagian dari penguatan pengendalian DBD berbasis masyarakat.

 

"Kecamatan Pamulang menjadi wilayah dengan capaian tertinggi karena telah mencapai 100 persen. Disusul Setu 64,58 persen, Pondok Aren 54,35 persen, Ciputat 50,48 persen, Serpong Utara 44,74 persen, Ciputat Timur 44,44 persen, dan Serpong 33,88 persen" paparnya.

 

Gebyar Jumantik yang mengusung tema “Basmi Dengue dengan 3M Plus dan Nol Kematian Akibat Dengue Melalui Program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik” itu diikuti sekitar 230 peserta dari unsur kewilayahan, kader jumantik, Forum Kota Sehat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. 

 

"Ini menjadi bukti komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya penguatan komitmen bersama dalam pengendalian DBD di Kota Tangsel," pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit