Pemkot Buka Akses Penempatan Tenaga Kerja Di Luar Negeri
SERPONG-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) membuka peluang penempatan tenaga kerja ke luar negeri melalui jalur resmi. Program tersebut diwujudkan lewat kolaborasi dengan PT Dwi Tunggal Jaya Abadi bersama Universitas Ichsan Satya (UIS) yang menghadirkan pelatihan, sertifikasi, hingga penempatan kerja di berbagai negara.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sekaligus pembukaan Program Pelatihan Kerja Luar Negeri di Galeri UMKM Kota Tangsel, Senin (13/7).
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie menilai, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
"Kita menyaksikan sebuah momentum yang sangat luar biasa bagi peningkatan kualitas SDM di wilayah kita. Secara khusus, saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Dwi Tunggal Jaya Abadi bersama Universitas Ichsan Satya (UIS) atas terselenggaranya kerja sama strategis ini," ujar Benyamin.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga membuka akses penempatan tenaga kerja ke berbagai negara melalui mekanisme yang legal dan sesuai prosedur.
"Ini merupakan langkah nyata dalam memperluas peluang kerja internasional sekaligus menekan angka pengangguran di Kota Tangerang Selatan," jelasnya.
Program tersebut mengusung tiga tahapan utama, yakni pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja. Sebanyak 69 calon peserta telah mendaftar dan saat ini sedang menjalani proses verifikasi sebelum mengikuti pelatihan.
Peserta nantinya akan mengikuti pelatihan bahasa Inggris maupun bahasa Jepang sesuai negara tujuan, dilanjutkan dengan pemeriksaan administrasi, pemeriksaan kesehatan, pembuatan paspor, hingga pengurusan visa.
"Peserta dibekali keahlian teknis, kemampuan bahasa, serta pemahaman budaya negara tujuan. Kurikulum dirancang khusus agar sesuai dengan kebutuhan nyata di pasar kerja global," kata Benyamin.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri menjadi fondasi penting agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
"Ini adalah wujud nyata link and match antara dunia pendidikan dengan industri global. Kolaborasi sinergis antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga pelatihan seperti inilah yang menjadi kunci agar proses penempatan kerja ke luar negeri berjalan dengan aman, legal, dan prosedural," katanya.
Pemkot Tangsel juga menegaskan komitmennya mengawal seluruh proses penempatan pekerja migran, mulai dari pelatihan, pemberangkatan hingga pengawasan selama bekerja di luar negeri, sebagai upaya mencegah praktik penipuan maupun Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Sementara, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangsel, Sabam Maringan mengatakan, hingga saat ini terdapat 69 calon peserta yang telah terdaftar. Namun, jumlah peserta yang mengikuti kegiatan pembukaan masih sekitar separuhnya karena proses pendataan dilakukan langsung oleh perusahaan penyedia penempatan.
Menurut Maringan, peran Disnaker lebih difokuskan pada pengawasan dan memastikan perusahaan penempatan benar-benar memenuhi ketentuan agar keamanan para calon pekerja migran tetap terjamin.
"Karena ini masalah ketenagakerjaan, salah satu bidang yang sebenarnya rawan, tingkat kerawanannya tinggi, rawan eksploitasi dan lain sebagainya. Ini jadi konsen kita untuk tetap mendampingi, mempersamai perusahaan yang mengirimkan anak-anak kita ke luar negeri supaya dia bisa menekan risiko," ujarnya.
Ia menjelaskan, materi pelatihan tidak hanya sebatas bahasa, tetapi juga disesuaikan dengan bidang pekerjaan yang diminati peserta. Calon pekerja yang memilih sektor perhotelan akan mendapatkan pelatihan hospitality, sedangkan peserta yang memilih sektor kesehatan akan dibekali kompetensi keperawatan maupun keterampilan medis lainnya.
Untuk pelatihan bahasa, kata Maringan, durasinya bervariasi. Bahasa Inggris diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan, sedangkan bahasa Jepang dapat mencapai empat hingga enam bulan karena peserta harus mempelajari huruf Kanji.
Menurutnya, peserta yang mengambil kelas bahasa Inggris berpeluang diberangkatkan pada tahun ini. Sementara peserta kelas bahasa Jepang membutuhkan waktu lebih lama karena proses pembelajarannya lebih kompleks.
"Negara tujuan penempatan banyak juga. Misalnya kalau Eropa itu, seperti Turki, Qatar. Lalu juga Montenegro hingga Amerika Serikat, bergantung pada kebutuhan tenaga kerja atau job order," pungkasnya.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




