Sejumlah Daerah Mulai Dilanda Kekeringan, Stok Beras Nasional Aman, Ancaman Karhutla Meningkat
JAKARTA – Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami kekeringan. Pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga dengan stok beras yang melimpah. Namun, di sisi lain, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meningkat dan menjadi perhatian serius.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam periode 19–20 Juli 2026, karhutla terjadi di sejumlah daerah, antara lain Aceh Tengah, Batang Hari (Jambi), Gresik (Jawa Timur), Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), Samarinda (Kalimantan Timur), dan Luwu Timur (Sulawesi Selatan).
Luas lahan yang terbakar bervariasi, mulai dari sekitar satu hektare hingga puluhan hektare. Kebakaran terbesar terjadi di Kota Samarinda dengan total luas mencapai sekitar 35,2 hektare yang tersebar di tiga titik.
Berkat respons cepat BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, dinas pemadam kebakaran, serta para relawan, sebagian besar kebakaran berhasil dikendalikan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Di Aceh Tengah, api membakar sekitar satu hektare lahan di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala. Sementara di Kabupaten Batang Hari, Jambi, sekitar 2,5 hektare lahan terbakar di Desa Batin, Kecamatan Bajubang.
Di Gresik, Jawa Timur, kebakaran melalap sekitar tiga hektare lahan kosong di kawasan Perumahan Sentraland, Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo. Di Kalimantan Selatan, sekitar lima hektare lahan di kawasan PT Dua Samudera Perkasa Tersus Bengkirai Sungai Dua, Kecamatan Simpang Empat, ikut terbakar. Sedangkan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sekitar satu hektare lahan di belakang kawasan Pertamina Ussu juga dilalap api.
Meningkatnya kejadian karhutla menjadi perhatian pemerintah. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan, hingga Juni 2026, lima provinsi dengan luas karhutla terbesar adalah Kalimantan Barat (28.680,47 hektare), Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), dan Papua Selatan (6.281,81 hektare).
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, Dwi Januarto Nugroho, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni 2026, luas karhutla di Kalimantan Selatan mencapai 383,07 hektare. Selain itu, hasil pemantauan mendeteksi 177 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi yang tersebar di berbagai wilayah provinsi tersebut.
Untuk mencegah kebakaran meluas, pemerintah telah mengaktifkan Posko Pengendalian Karhutla di Kalimantan Selatan sejak 15 Juli 2026. Posko ini melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dilakukan berdasarkan prediksi pertumbuhan awan dari BMKG. Pemerintah juga memperkuat upaya pembasahan lahan gambut melalui pengaturan pintu air guna menjaga tinggi muka air sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Kekeringan Meluas di Pulau Jawa
Dampak musim kemarau juga mulai dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Di Jawa Timur, sebanyak 14 kabupaten telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Sebanyak 11 daerah berstatus Siaga Darurat, sedangkan Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo telah meningkatkan status menjadi Tanggap Darurat.
Di Jawa Tengah, jumlah wilayah terdampak terus bertambah. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Risca Maulida, mengatakan sedikitnya 19 kabupaten/kota kini mengalami kekeringan akibat menurunnya curah hujan selama musim kemarau.
Wilayah tersebut meliputi Batang, Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Demak, Purworejo, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Klaten, Kota Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, serta Kota dan Kabupaten Magelang.
Stok Beras 5,2 Juta Ton
Di tengah ancaman kekeringan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pembangunan jaringan irigasi seluas 900 ribu hingga satu juta hektare, penyediaan benih padi tahan kekeringan, pompanisasi sumur dalam, hingga rehabilitasi jaringan irigasi.
"Semua ini adalah pertahanan kita untuk mengantisipasi kekeringan. Kita sudah berpengalaman menghadapi El Nino pada 2015, 2023, dan 2024. Dengan pengalaman itu, alhamdulillah kita bisa melewatinya," ujar Amran saat berkunjung ke ITS Cabang Buncitan, Sidoarjo, Rabu (22/7/2026).
Amran menegaskan, Indonesia tidak lagi mengimpor beras sejak 2025. Saat ini stok beras nasional mencapai sekitar 5,2 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan saat menghadapi El Nino beberapa tahun lalu yang hanya berkisar 1,5 juta ton.
Pemerintah optimistis kombinasi stok beras yang kuat, kesiapan infrastruktur pertanian, serta langkah antisipasi terhadap karhutla dapat menjaga ketahanan pangan sekaligus meminimalkan dampak musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu



