Setahun Surplus Beras, Jagung, hingga Ayam, Indonesia Makin Mantap Menuju Kemandirian Pangan
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memastikan kondisi pangan nasional tetap aman setelah Indonesia mencatat surplus sejumlah komoditas strategis selama satu tahun terakhir. Surplus tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, telur, daging ayam, hingga ikan.
Menurut Zulkifli Hasan atau Zulhas, capaian tersebut menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
"Alhamdulillah, selama setahun terakhir kita sudah surplus. Jagung surplus, gula untuk konsumsi surplus, begitu juga telur, ayam, dan ikan," ujar Zulhas saat menghadiri Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 dan Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Zulhas menjelaskan, dinamika geopolitik global membuat banyak negara lebih memprioritaskan kebutuhan dalam negeri dengan membatasi ekspor komoditas pangan. Karena itu, Indonesia harus semakin mengandalkan kekuatan dan kemampuan produksinya sendiri.
Menurutnya, ketahanan pangan nasional kini berada di jalur yang tepat menuju kemandirian. Prinsip berdiri di atas kaki sendiri dinilai menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.
"Ketahanan pangan kita sudah cukup kuat untuk membuat Indonesia mandiri dan tidak bergantung kepada negara lain. Alhamdulillah," katanya.
Tak hanya sektor pangan, pemerintah juga terus memperkuat kedaulatan energi berbasis komoditas pertanian. Setelah pengembangan biofuel untuk solar, pemerintah bersiap meluncurkan bensin campuran etanol 10 persen (E10) yang diproduksi dari bahan baku lokal seperti singkong, jagung, dan tebu.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global dan berbagai konflik internasional.
Menurutnya, inflasi Indonesia tetap terkendali di kisaran 1–2 persen, sementara pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen.
"Mari kita jaga ketenangan dan keselamatan bangsa ini. Indonesia memiliki peluang besar menjadi episentrum peradaban dunia Islam pada masa mendatang," ujarnya.
Meski demikian, Nasaruddin menilai literasi ekonomi syariah di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Dari sekitar 240 juta penduduk Muslim, tingkat literasi dan keterlibatan dalam ekonomi syariah baru sekitar 7,5 persen.
Angka tersebut masih jauh di bawah Malaysia yang telah mencapai sekitar 27 persen, meski jumlah penduduk Muslimnya hanya sekitar 20 juta jiwa.
"Kita sudah hampir dua dekade memperkenalkan perbankan syariah, tetapi pangsa pasarnya masih di bawah 10 persen. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga melalui pendekatan kultural, keagamaan, serta edukasi yang masif," jelasnya.
Ia optimistis, penguatan ekonomi syariah yang berjalan seiring dengan stabilitas nasional dan peningkatan kualitas pemahaman keagamaan akan membawa Indonesia tidak hanya sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi juga menjadi salah satu pusat kemajuan peradaban Islam di tingkat global.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 16 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



