TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Stok Rudal Menipis, AS Hentikan Serangan ke Iran, Buka Peluang Jalur Diplomasi

Reporter: Farhan
Editor: AY
Selasa, 28 Juli 2026 | 08:31 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

AS – Amerika Serikat (AS) menghentikan operasi serangan udara terhadap Iran selama dua hari berturut-turut di tengah laporan menipisnya persediaan rudal pertahanan udara. Kondisi tersebut disebut mendorong Washington mulai mengedepankan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.


Laporan The Guardian, Minggu (26/7/2026), menyebut sejumlah pejabat tinggi militer AS menyarankan Presiden Donald Trump menghentikan operasi militer guna mencegah konflik meluas menjadi perang berskala besar. Rekomendasi itu disampaikan dalam pertemuan bersama para penasihat utama dan anggota senior kabinet, yang kemudian disetujui Trump.
Keputusan tersebut membuka peluang dimulainya kembali komunikasi dengan Teheran.


Sementara itu, NBC News melaporkan penghentian serangan berkaitan dengan menipisnya stok rudal pencegat Patriot serta amunisi pertahanan udara lainnya yang ditempatkan AS di kawasan Timur Tengah.


Bahkan, menurut dua pejabat senior AS, komandan militer disebut mengizinkan sebagian rudal dan pesawat nirawak Iran menembus sistem pertahanan sebagai langkah menghemat persediaan amunisi yang tersisa.


Laporan senada disampaikan Axios, yang menyebut Komandan Tertinggi Militer AS di Timur Tengah, Laksamana Bradley Cooper, telah memberi tahu Trump bahwa efektivitas operasi militer AS mulai mencapai batasnya.


Sementara itu, The New York Times dan CNN melaporkan Trump membatalkan rencana memperluas operasi militer terhadap Iran setelah Kepala Staf Pentagon Dan Caine memperingatkan bahwa stok rudal pertahanan udara semakin menipis dan tetap dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan.


Meski demikian, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, membantah kabar mengenai menipisnya persediaan amunisi. Dalam wawancara dengan NBC News, ia meminta publik tidak langsung mempercayai laporan tersebut.


"Pihak yang menyebarkan informasi itu seharusnya dipenjara," ujar Waltz.
Namun, ia mengakui Presiden Trump memang membuka ruang bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.


"Dia memberi ruang untuk pembicaraan, dia memberi sedikit kelonggaran," katanya, seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan tengah mempertimbangkan operasi militer yang lebih besar terhadap Iran. Seluruh opsi, termasuk kemungkinan keterlibatan Israel, disebut telah disiapkan meski belum ada keputusan final.


Di sisi lain, Iran juga menghentikan serangan balasannya setelah operasi udara AS dihentikan. Juru Bicara Militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan strategi Teheran bersifat defensif dan balasan, sehingga operasi ikut dihentikan ketika serangan AS berhenti.


Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menambahkan komunikasi dengan Washington masih berlangsung, meski belum memasuki tahap perundingan resmi. Menurutnya, prioritas utama Iran saat ini adalah menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keamanan rakyatnya.


Iran juga menegaskan tidak akan membiarkan Selat Hormuz dimanfaatkan untuk mengancam keamanan nasionalnya. Teheran menuding AS dan Israel sebagai pihak yang memperburuk situasi keamanan di kawasan.


Sementara itu, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, menuduh Israel terus mendorong AS melanjutkan perang melalui informasi yang menyesatkan. Ia juga memperingatkan bahwa pangkalan udara Inggris dapat menjadi sasaran apabila terus mendukung operasi pesawat pengebom B-1 milik AS.


Selama 13 hari berturut-turut, AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Iran yang menyasar berbagai infrastruktur strategis. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah target, termasuk pangkalan militer AS di kawasan Teluk.


Meredanya ketegangan kedua negara langsung direspons positif oleh pasar energi global. Pada perdagangan Senin (27/7/2026), harga minyak mentah Brent turun 5,05 persen menjadi 91,89 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 5,23 persen menjadi 84,64 dolar AS per barel.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit