TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Merdeka dan Kaya: Refleksi 81 Tahun Indonesia

Oleh: Brian M Wiryo Sentono
Editor: Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:36 WIB
Brian M Wiryo Sentono, Peneliti The Political Literacy Institute. (Ist)
Brian M Wiryo Sentono, Peneliti The Political Literacy Institute. (Ist)

Kaya tapi untuk apa?

Indonesia adalah negeri dengan kekayaan melimpah. Kita hidup di bumi yang alamnya bak surga dunia. Negara yang alamnya tidak pernah pelit. Tanah yang subur, laut yang luas, isi buminya menyimpan apa yang dibutuhkan oleh seluruh manusia, dan ratusan juta manusia diatasnya menjadi kekuatan penggerak pasar. Tuhan seakan terlalu murah hati kepada negeri ini.

 

Lalu masalahnya dimana? Mungkin karena kita terlalu kaya, seakan kekayaan seperti dua mata pisau. Disatu sisi kekayaan alam menjadi berkat bagi kita tetapi juga bisa menjadi jebakan. Selama ini bumi kita membuat kita punya sesuatu untuk dijual sebelum kita belajar bagaimana menciptakan sesuatu yang bernilai. Seolah kita menikmati hasil bumi tetapi lupa membangun kemampuan untuk mengolahnya. Kita selalu bangga dengan apa yang tersimpan dibawahnya tetapi lupa masa depan justru berdiri diatas tanahnya.

 

Sudah 81 tahun merdeka, selama itu juga kita menikmati kekayaan bumi kita. Lantas pertanyaannya, kita kaya untuk apa dan siapa? Sebab kekayaan alam pada dasarnya hanya modal. Ia tidak serta merta berubah menjadi kesejahteraan.

 

Kekayaan minyak, mineral, gas dan laut yang kita miliki baru memiliki arti ketika mampu menciptakan lapangan pekerjaan, ilmu pengetahuan baru, membangun teknologi dan kehidupan yang lebih baik bagi manusia yang hidup diatasnya. Sebab kalau kekayaan itu sudah bekerja sebagaimana mestinya, hasilnya semestinya terasa dalam kehidupan sehari-hari kita.

 

Indonesia memang terus tumbuh, pada 2025 PDB per kapita kita sudah mencapai sekitar Rp83,7 juta. Namun ditahun yang sama BPS masih mencatat 23 juta orang hidup dibawah garis kemiskinan. Angka tersebut mengingatkan bahwa antara kekayaan yang kita miliki dan kesejahteraan yang dirasakan masih ada jarak yang lebar yang harus ditutupi. Inilah ironi bangsa ini.

 

Ketika Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Sementara tidak jauh dari Indonesia, berdiri sebuah negara maju yang hampir tidak memiliki kemewahan sumber daya alam seperti kita yang bernama Singapura. Singapura hanya negara kecil yang menjelma menjadi kekuatan baru dikawasan Asia Tenggara.

 

Jikalau dibandingkan cepat-cepat dengan Indonesia, Singapura tidak punya banyak sekali pilihan. Tidak ada tambang besar yang bisa diandalkan. Tidak ada hutan luas karena lahan mereka terbatas. Bahkan sumber airpun menjadi masalah utama beberapa dekade silam.

 

Mereka tak seperti kita, mereka tidak bisa menggali kekayaan dari perut bumi lalu menjualnya. Singapura harus mencari cara lain agar mereka dapat tetap bersaing. Mereka harus menciptakan kekuatannya sendiri dan mereka sadar, bahwa kekuatan terbesar mereka adalah diri mereka sendiri.

 

Jikalau Indonesia memiliki laut yang membentang, Singapura membangun Pelabuhan sebagai penghubung dunia. Kalau Indonesia memiliki pasar domestik raksasa, Singapura menjadikan negerinya pintu masuk bagi pasar yang jauh lebih besar.

 

Keterbatasan mereka memaksa mereka untuk berpikir. Yang pada akhirnya Singapura tidak punya pilihan selain menjadikan manusia sebagai sumber daya utamanya. Karena itu mereka memandang pendidikan bukan hanya urusan ijazah semata. Pendidikan harus menjadi bagian dari cara sebuah negara membangun masa depan.

 

Manusia di Atas Segalanya

Indonesia seharusnya memiliki modal yang jauh lebih besar; manusia dalam jumlah yang luar biasa. Lebih dari 280 juta orang hidup di negeri ini.

 

Diantara jumlah sebesar itu ada anak-anak yang sedang tumbuh, para mahasiswa yang sedang belajar, para pekerja yang sedang mencari kesempatan dan jutaan lainnya yang sebentar lagi akan menentukan arah bangsa. Mereka itulah yang sering kita sebut dengan bonus demografi.

 

Tetapi bonus demografi bukanlah hadiah yang serta merta jatuh ke tangan kita. Jumlah manusia besar tanpa kualitas, keterampilan dan kesempatan pada akhirnya hanyalah menjadi beban besar sebuah negara.

 

Bonus demografi hanya memberi kita angka sementara pendidikan dan kesempatanlah yang mengubah angka tersebut menjadi kekuatan.

 

Disinilah kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap kekayaan sebuah bangsa. Selama ini kita terlalu mudah menyebut apa yang tersimpan dibawah tanah kita sebagai kekayaan bangsa.

 

Tetapi kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan yang tak pernah habis dan itu adalah manusia itu sendiri. Pengetahuan yang ditanamkan kepada satu generasi tidak akan pernah habis ketika diperas, dipergunakan. Ia justru berkembang dan melahirkan pengetahuan dan peradaban serta nilai baru.

 

Kita boleh melakukan hilirisasi, kita bisa membangun industri. Kita boleh mengolah kekayaan alam menjadi produk yang bernilai dipasar. Tetapi pada akhirnya semua itu membutuhkan manusia yang berkualitas agar dapat tetap terus berkembang dan bersaing.

 

Merdeka Untuk Masa Depan

Delapan puluh satu tahun lalu, pendiri bangsa kita memperjuangkan sesuatu yang sangat mendasar; hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

 

Indonesia tidak lagi ingin menjadi tanah yang ditentukan oleh kepentingan bangsa lain. Saat ini, bentuk perjuangannya tentu berbeda. Tidak ada lagi kapal perang, pesawat tempur dan pasukan yang harus kita lawan.

 

Tetapi medan perang saat ini sudah berubah ke ruang kelas, laboratorium, ruang rapat, pelabuhan dan pasar global. Negara dan warga negara harus mampu membangun sumber daya agar tidak bergantung pada kekuatan luar lain.

 

Kemerdekaan juga berarti memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri. Negara yang hanya menjual apa yang dimilikinya tanpa mampu menciptakan sesuatu yang baru pada akhirnya akan selalu berada di posisi yang mengikuti.

 

Karena itu kemerdekaan membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: kemampuan.

 

Kemampuan untuk mendidik manusia, kemampuan untuk mengembangkan teknologi sendiri, kemampuan untuk bertahan dengan identitas dan ciri bangsanya sendiri dan kemampuan untuk mengelola kekayaan sendiri.

 

Terpenting dari itu adalah kemampuan untuk menentukan kemana semua itu akan dibawa.

 

Indonesia tidak pernah kekurangan modal untuk itu, kita punya alam yang kaya, pasar yang besar, geografis yang strategis dan generasi muda yang luar biasa banyak jumlahnya.

 

Yang harus kita pastikan adalah semua modal tersebut dapat kita jaga dan kita rawat untuk kepentingan bangsa kita sendiri bukan untuk China, bukan untuk Amerika dan bangsa lain.

 

Modal kekayaan kita tidak boleh kita gadaikan demi keuntungan sesaat. Ia harus menjadi bahan utama dalam membangun kualitas dan kekuatan bangsa kedepan.

 

Merdeka dan Kaya

Pada akhirnya Indonesia tidak kekurangan apapun, tetapi harus kita pastikan adalah bagaimana saat ini apa yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri bukan negara atau kelompok lain.

 

Kita tidak harus menjadi seperti Singapura. Indonesia punya jalan sejarahnya sendiri. Tetapi kita bisa belajar dari cara sebuah negara kecil menghadapi keterbatasannya; ketika alam tidak memberi banyak hal, manusia dipaksa untuk menjadi lebih berguna dan bernilai.

 

Justru dengan kita memiliki kemewahan alam yang tidak dimiliki negara lain, tugas kita menjadi lebih berat; jangan sampai kekayaan alam kita membuat kita lupa bahwa kekayaan terbesar dari sebuah bangsa adalah manusia didalamnya.

 

Manusia itu bukan hanya mereka yang memimpin Indonesia hari ini. Mereka adalah anak-anak yang setiap pagi berangkat ke sekolah dengan seragamnya.

 

Beberapa tahun lagi merekalah yang akan menjalankan negeri ini, menjaga kekayaannya, mengembangkan teknologinya dan menentukan kemana Indonesia berjalan.

 

Karena itu pembangunan tidak boleh hanya sibuk menghitung apa yang bisa diambil hari ini. Tetapi juga harus menghitung apa yang sedang kita siapkan untuk mereka esok mendatang.

 

Negara ini boleh mewariskan kekayaan alam. Tetapi yang jauh lebih penting adalah mewariskan manusia yang mampu menjaga negeri ini untuk terus berkembang.

 

Karena sumber daya alam bisa habis, infrastruktur bisa tua, teknologi bisa tertinggal. Tetapi seorang anak yang mendapat pendidikan yang baik, kesempatan yang adil dan ruang untuk berkembang dapat membawa sebuah bangsa jauh lebih panjang dari umur sebuah generasi.

 

Indonesia sudah merdeka, tugas kita memastikan kemerdekaan itu menjadi bekal bukan hanya sekadar kebanggaan bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini.

 

Dirgahayu Indonesia untuk hari ini yang kita syukuri dan untuk masa depan yang sedang tumbuh di depan mata kita.

Komentar:
Berita Lainnya
Dahlan Iskan
Datuk Merdeka
Selasa, 18 Agustus 2026
Dahlan Iskan
Sutrimo Winda
Jumat, 14 Agustus 2026
Dahlan Iskan
Deleg Deleg
Kamis, 13 Agustus 2026
Dahlan Iskan
Kutukan Alam
Rabu, 12 Agustus 2026
Dahlan Iskan
Jemput Depan
Selasa, 11 Agustus 2026
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit