Dari Perang Rudal, Kini Blokade Ekonomi Trump Frustrasi Melawan Iran
AS — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya mulai frustrasi menghadapi Iran. Setelah perang rudal tak kunjung membuat Teheran menyerah, Washington kini mengancam melumpuhkan perekonomian Iran melalui blokade ekonomi dan sanksi berskala besar.
Ancaman Trump bahkan tidak hanya ditujukan kepada Iran. Negara mana pun yang membantu Teheran juga diperingatkan akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat.
“Setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” tulis Trump melalui Truth Social, dikutip AFP, Jumat (21/8/2026).
Trump tidak merinci bentuk sanksi maupun negara yang berpotensi menjadi sasaran. Namun, ancaman tersebut dapat menyasar negara-negara yang selama ini menjadi jalur perdagangan Iran, termasuk pihak yang berperan sebagai perantara dalam upaya perundingan damai.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai Economic D-Day. Istilah D-Day merujuk pada hari dimulainya operasi militer besar, yang paling terkenal adalah pendaratan pasukan Sekutu di Normandia, Prancis, pada 6 Juni 1944 untuk membebaskan Eropa dari pendudukan Nazi Jerman.
Menurut Trump, Teheran telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai perdamaian. Dia mengklaim telah memberikan Iran peluang terbesar untuk mencapai kesepakatan.
“Saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun. Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tegas Trump.
Bidik Jalur Keuangan Iran
Melalui operasi Economic D-Day, Washington akan berupaya memutus jalur keuangan dan perdagangan yang selama ini menopang perekonomian Iran.
Sejumlah sektor menjadi sasaran, mulai dari penyelundupan minyak, fasilitas pertukaran keuangan, transfer uang tunai, tempat penukaran mata uang, registrasi kapal, hingga perusahaan-perusahaan kedok atau front companies.
Trump mengklaim kondisi Iran saat ini sudah sangat terpojok.
“Angkatan laut mereka sudah tidak ada, angkatan udara mereka hancur, pabrik-pabrik militer mereka kini tinggal puing-puing. Mata uang mereka tidak bernilai lagi dan negara itu sedang berada di ujung tanduk,” klaim Trump.
Tekanan terhadap Iran juga diperkuat Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Washington bahkan mendesak China ikut mendukung upaya isolasi ekonomi terhadap Teheran.
Bessent memperingatkan negara-negara yang tidak mendukung langkah AS akan menghadapi konsekuensi berat.
“Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi paling besar dalam sejarah dunia. Dan kami mendatangi mereka dengan pesan: apakah Anda berada di pihak kami? Atau melawan kami?” kata Bessent, seperti dilansir AFP dan TRT World, Jumat (21/8/2026).
AS Rayu China
Bessent berusaha meyakinkan Beijing bahwa China justru akan memperoleh keuntungan jika mendukung langkah Washington.
Menurutnya, China berkepentingan terhadap stabilitas pasokan energi dan kembali terbukanya Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
“Kami yakin semua pihak ingin Selat Hormuz dibuka kembali, harga energi turun. Perlu diingat, China memperoleh 50 persen pasokan energinya dari kawasan Teluk. Jadi, akan sangat menguntungkan bagi mereka,” ujarnya.
Bessent juga mengatakan AS segera menjatuhkan sanksi terberat yang pernah diberikan kepada Iran. Washington meyakini tekanan tersebut dapat melumpuhkan perekonomian Iran sekaligus menggoyang pemerintahan Teheran.
Namun, Beijing tidak serta-merta mengikuti tekanan Washington.
Otoritas China menegaskan, penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur diplomasi dan politik.
“Pemberlakuan sanksi dan tekanan tidak membantu dalam menyelesaikan masalah. China menyerukan pihak terkait mengambil langkah bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah ini melalui cara-cara diplomatik dan politik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian kepada wartawan di Beijing.
Iran Balik Sindir Trump
Iran sendiri memilih menanggapi ancaman Economic D-Day dengan santai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai langkah tersebut hanya merupakan kelanjutan dari kebijakan AS yang selama ini, menurut Teheran, terbukti gagal.
Araghchi bahkan menyebut Washington berpotensi menghadapi kekalahan yang lebih besar.
“Yang disebut Economic D-Day itu adalah pengalihan perhatian dari krisis AS sendiri. Utang pemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan melonjaknya beban bunga,” tulis Araghchi melalui X, dikutip AFP, Jumat (21/8/2026).
Dengan ancaman sanksi terbaru tersebut, konfrontasi AS-Iran kini berpotensi memasuki babak baru. Setelah kekuatan militer dan perang rudal menjadi medan pertarungan, Washington mulai mengalihkan tekanan ke sektor keuangan, perdagangan, dan energi untuk memaksa Teheran menyerah.
Nasional | 22 jam yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 18 jam yang lalu
Pos Banten | 17 jam yang lalu
Nasional | 19 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu








