Israel Mulai Bidik Turki, Ketegangan Memanas di Suriah
ISRAEL — Ketegangan antara Israel dan Turki kembali memanas. Belum mereda konflik dengan Iran, Israel kini memperingatkan Turki terkait dugaan rencana pengerahan pasukan Ankara ke salah satu pangkalan udara di Suriah.
Suriah menjadi medan baru perseteruan kedua negara. Israel menuding Turki berupaya memperluas kehadiran militernya di wilayah Suriah, sementara Ankara membantah tudingan tersebut dan balik menuduh Tel Aviv melakukan agresi yang mengancam stabilitas kawasan.
Ketegangan terbaru dipicu serangan udara Israel terhadap pangkalan udara Abu al-Duhur di wilayah pedesaan Idlib, Suriah Utara, Selasa (18/8/2026). Israel dilaporkan melancarkan delapan serangan ke lokasi tersebut.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menuding Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berupaya menyeret negaranya lebih jauh ke dalam konflik Suriah. Israel menduga pasukan Turki akan ditempatkan di pangkalan udara tersebut.
“Israel tidak akan mengizinkan pihak mana pun yang mengancam keamanan kami,” tulis Katz melalui platform X, dikutip AFP, Kamis (20/8/2026).
Peringatan serupa disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sehari setelah serangan, Netanyahu memperingatkan pemerintah Suriah agar tidak mengizinkan keberadaan militer Turki di pangkalan tersebut.
“Pesan kami sangat jelas, jangan lakukan itu. Saya rasa mereka tidak sepenuhnya memahami pesan tersebut,” kata Netanyahu, Rabu (19/8/2026).
Netanyahu menegaskan, Israel tidak akan menerima perluasan kekuatan militer asing yang dinilai dapat mengancam keamanan negaranya.
“Israel tidak akan menoleransi pembangunan militer Turki yang bergerak ke selatan karena itu mengancam kami,” tegasnya.
Turki Bantah Kerahkan Pasukan
Kementerian Pertahanan Turki langsung membantah tudingan Israel. Ankara menegaskan tidak pernah mengerahkan pasukannya ke pangkalan udara Abu al-Duhur.
Meski demikian, Turki memastikan tetap mendukung Suriah dalam membangun kembali infrastruktur serta meningkatkan kemampuan militernya.
Ankara juga mengecam keras serangan Israel terhadap wilayah Suriah. Serangan tersebut dinilai sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan ceroboh karena berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan.
“Upaya dan kontribusi kami untuk melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah akan terus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan tujuan membantu menciptakan kondisi yang aman dan stabil,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Turki, dikutip Anadolu, Jumat (21/8/2026).
Turki bahkan menuding Israel sengaja mengacaukan stabilitas Suriah melalui serangkaian agresi dan operasi militernya.
Menurut Ankara, tudingan Israel mengenai rencana penempatan pasukan Turki justru digunakan untuk membenarkan serangan terhadap wilayah Suriah.
“Tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan oleh Kantor Perdana Menteri Israel ditujukan untuk melegitimasi serangan udara Israel terhadap kedaulatan dan wilayah teritorial Suriah,” demikian pernyataan Kantor Kepresidenan Turki.
Suriah Ikut Bantah
Pemerintah Suriah juga membantah adanya rencana penempatan pasukan Turki di pangkalan udara yang menjadi sasaran serangan Israel.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani mengatakan, tidak ada alasan bagi Israel untuk melancarkan serangan tersebut. Menurutnya, sebelum serangan terjadi, tidak ada rencana untuk mendirikan pangkalan atau menempatkan pasukan Turki secara permanen di lokasi tersebut.
“Tidak ada niat untuk mendirikan pangkalan atau membangun markas militer Turki secara permanen, bahkan sampai menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut,” ujar Al-Shaibani dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Axios, Rabu (19/8/2026).
Dia menjelaskan, pangkalan udara Abu al-Duhur sebagian besar dalam kondisi kosong dan belum beroperasi. Fasilitas tersebut masih dalam tahap pemulihan untuk nantinya digunakan Angkatan Udara Suriah.
Al-Shaibani memang mengakui sejumlah perwira militer Turki sempat mengunjungi pangkalan tersebut beberapa hari sebelum serangan Israel. Namun, kunjungan itu disebut merupakan bagian dari kerja sama militer antara Ankara dan Damaskus, termasuk pelatihan serta pertukaran keahlian.
Hubungan Israel-Turki Makin Tegang
Perseteruan Israel dan Turki bukan persoalan baru. Hubungan kedua negara semakin tegang seiring meningkatnya operasi militer Israel di Suriah, terutama di wilayah barat daya.
Serangan Israel di Suriah semakin intens setelah pemerintahan Bashar Assad tumbang pada 2024. Tel Aviv berdalih operasi tersebut diperlukan untuk menghadapi potensi ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan penguasa baru Suriah.
Di sisi lain, Turki telah mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah utara dan timur Suriah selama bertahun-tahun. Ankara juga menjadi salah satu sekutu utama Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Turki menilai Israel justru berupaya mengganggu stabilitas Suriah dan melemahkan pemerintahan baru di negara tersebut.
Perbedaan kepentingan kedua negara semakin tajam akibat perang di Gaza, Palestina. Turki merupakan salah satu negara yang paling vokal mengecam operasi militer Israel di Gaza.
AS Khawatir Konflik Meluas
Ketegangan Israel dan Turki di Suriah turut memicu kekhawatiran Amerika Serikat (AS). Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengecam serangan udara Israel terhadap pangkalan Suriah.
Menurut Barrack, serangan tersebut berpotensi memperburuk kondisi kawasan dan tidak memberikan kontribusi terhadap stabilitas regional.
“Kami sangat khawatir dengan serangan-serangan udara Israel. Eskalasi yang tidak perlu yang tidak memajukan stabilitas regional,” ujar Barrack, dikutip Al Jazeera.
Barrack mengatakan Washington tengah berupaya mencari solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan yang melibatkan Israel, Turki, dan Suriah.
“AS akan terus menawarkan diskusi diplomatik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan regional,” tandasnya.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 20 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 13 jam yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu








