Wakili Banten, Indonesia Puteri Reza Fauzi Raih Grand Winner Puteri Wisata Indonesia 2026
CIPUTAT – Prestasi membanggakan diraih perwakilan Banten dalam ajang Putera Puteri Wisata Indonesia 2026. Indonesia Puteri Reza Fauzi atau yang akrab disapa Nesia berhasil meraih gelar Grand Winner Puteri Wisata Indonesia 2026.
Tak hanya Nesia, perwakilan Banten lainnya juga mencatatkan prestasi. Indonesia Puteri Remaja Hana Gavrila Ratna Arisandi yang masih berusia 16 tahun berhasil menjadi First Runner Up Puteri Remaja Wisata Indonesia 2026.
Regional Director PPWI Banten, Thysie Ayu, mengatakan capaian tersebut menjadi hasil membanggakan bagi Banten setelah kedua wakilnya mampu bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Alhamdulillah yang dewasa grand winner, yang remaja meraih first runner up,” ujar Ayu saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (26/8).
Menurut Ayu, dalam ajang tersebut terdapat lima pemenang yang mendapatkan mahkota. Nesia berhasil menempati posisi tertinggi sebagai Grand Winner Puteri Wisata Indonesia 2026.
Atas capaian tersebut, Nesia berpeluang mewakili Indonesia dalam ajang internasional. Namun, pihaknya masih menunggu pengumuman resmi mengenai kompetisi yang akan diikuti.
Ada dua kemungkinan ajang internasional yang menjadi tujuan, yakni Universal Woman yang akan berlangsung di Kamboja atau Miss Heritage di Vietnam.
“Antara dua ini, kita tidak tahu yang mana. Kalau Universal Woman itu dari 29 September sampai 12 Oktober. Kalau Miss Heritage itu di bulan Oktober,” katanya.
Babak final Putera Puteri Wisata Indonesia 2026 digelar di Black Eagle Cirebon. Sebelumnya, para finalis menjalani masa karantina di Hotel Grand Dian Luxury Cirebon.
Kompetisi tersebut diikuti perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan hingga Sulawesi.
Ayu menjelaskan, penilaian dalam ajang tersebut tidak hanya berfokus pada penampilan peserta. Sikap, kemampuan berkomunikasi serta wawasan juga menjadi bagian penting dalam penilaian.
“Memang ini ajang kecantikan, tapi mereka menilainya lebih detail lagi. Dari attitude, tegur sapa, terus juga pengetahuan,” ujarnya.
Salah satu tahapan yang harus dilewati Nesia adalah sesi head to head yang konsepnya menyerupai debat. Tahapan tersebut sudah dilakukan sebelum masa karantina melalui pertemuan secara daring dan kembali dijalani saat karantina.
Menariknya, Nesia kembali berhadapan dengan peserta dari Kalimantan Selatan yang sebelumnya menjadi lawannya dalam sesi tersebut. Keduanya kembali bertemu hingga babak grand final.
Sementara itu, Nesia mengaku bersyukur dan terharu atas pencapaian yang diraihnya. Mahasiswi S2 Universitas Indonesia itu menyebut gelar Grand Winner bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga hasil dukungan keluarga, tim dan masyarakat.
“Tentu sangat bersyukur, haru, dan tidak menyangka bisa berdiri di titik ini. Gelar ini bukan cuma milik saya, tapi juga hasil dari doa, dukungan, dan kasih sayang keluarga, tim, serta masyarakat yang terus menyemangati saya. Rasa bangga ini beriringan dengan tanggung jawab besar untuk bisa menjadi representasi yang baik bagi pariwisata Indonesia,” kata Nesia.
Selama mengikuti kompetisi, Nesia mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan. Masa karantina diisi berbagai kegiatan dengan jadwal padat dari pagi hingga malam, mulai dari deep interview, outfit presentation hingga public speaking.
“Pengalamannya luar biasa berkesan dan membentuk mental saya. Selama karantina, jadwal sangat padat dari pagi hingga malam. Mulai dari deep interview, outfit presentation, hingga public speaking,” tuturnya.
Menurut Nesia, tantangan terbesar adalah menjaga kestabilan energi, kesehatan fisik dan fokus di tengah padatnya kegiatan. Ia juga harus mampu tampil menonjol dengan tetap mempertahankan karakter dirinya sendiri.
Terkait persaingan, Nesia menilai seluruh perwakilan daerah memiliki keunggulan masing-masing. Setiap peserta membawa potensi, advokasi pariwisata dan keunikan budaya dari daerah asalnya.
“Jujur, semua perwakilan daerah adalah saingan yang sangat berat karena mereka datang membawa potensi, advokasi pariwisata, dan keunikan budayanya masing-masing. Tapi kalau boleh jujur, saya tidak menganggap mereka sekadar pesaing, melainkan teman berjuang. Kita semua saling melengkapi dan menginspirasi selama kompetisi,” ungkapnya.
Sementara itu, keberhasilan Hana Gavrila Ratna Arisandi sebagai First Runner Up Puteri Remaja Wisata Indonesia 2026 turut melengkapi capaian Banten dalam ajang tersebut.
Hana yang masih berusia 16 tahun sebelumnya terpilih sebagai perwakilan Puteri Wisata Remaja Banten 2026. Ia menjadi salah satu dari tiga wakil Banten yang dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional.
Dengan capaian tersebut, Banten berhasil membawa pulang dua prestasi sekaligus dari ajang Putera Puteri Wisata Indonesia 2026, yakni Grand Winner melalui Nesia dan First Runner Up melalui Hana.
Ke depan, Nesia mulai mempersiapkan diri jika dipercaya menjadi wakil Indonesia di ajang internasional. Persiapan dilakukan melalui latihan public speaking, catwalk hingga penguatan mental.
Bersama tim, Nesia juga menyiapkan national costume serta penampilan seni budaya yang akan dibawa untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia di panggung internasional.
“Menjadi wakil Indonesia di panggung dunia adalah kehormatan sekaligus amanah besar. Persiapan yang sedang dan akan saya jalani meliputi latihan public speaking dan catwalk hingga pembentukan mental. Saya juga bekerja sama dengan tim untuk menyiapkan national costume serta penampilan seni budaya yang siap memukau panggung internasional dan membawa nama harum Indonesia,” pungkas Nesia.
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 13 jam yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu








