TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Hasil CKG, Anak Sekolah Di Tangsel Rentan Depresi

Pemkot Perkuat Kesehatan Mental

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Kamis, 27 Agustus 2026 | 07:00 WIB
MENTAL REMAJA. Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie dalam seminar kesehatan mental remaja di Puspemkot Tangsel.
MENTAL REMAJA. Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie dalam seminar kesehatan mental remaja di Puspemkot Tangsel.

CIPUTAT-Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada anak sekolah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menemukan adanya indikasi depresi dan ansietas pada sebagian peserta. Temuan tersebut menjadi perhatian Pemkot Tangsel dan ditindaklanjuti melalui Seminar Kesehatan Remaja yang membahas kesehatan mental di Puspemkot Tangsel, Rabu (26/8).

 

 Seminar yang diikuti sekitar 200 peserta itu melibatkan perwakilan guru, organisasi perangkat daerah (OPD), siswa, serta petugas kesehatan jiwa dari Puskesmas. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat pemahaman dan pendampingan terhadap remaja, khususnya dalam menjaga kesehatan mental.

 

 Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan. Pada tahap tersebut, anak mengalami berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, sosial maupun cara berpikir.

 

 Remaja mulai membangun identitas diri, menentukan cita-cita dan membentuk pertemanan. Pada saat bersamaan, mereka juga menghadapi berbagai tuntutan dari keluarga, sekolah dan lingkungan sosial.

 

 "Tekanan untuk berprestasi, permasalahan pertemanan, perundungan atau bullying, konflik keluarga, penggunaan media sosial, hingga kekhawatiran terhadap masa depan dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja," kata Benyamin.

 

 Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat turut menghadirkan tantangan baru bagi remaja. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental perlu dilakukan sejak dini dan melibatkan berbagai pihak.

 

 Pemkot Tangsel, lanjut Benyamin, berkomitmen memperkuat upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan, termasuk kesehatan jiwa dan mental remaja.

 

 Namun, upaya tersebut tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Peran keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan dan masyarakat sangat dibutuhkan.

 

 "Saya mengajak kepada seluruh orang tua dan guru untuk menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak kita. Tidak hanya bertanya tentang nilai dan prestasi, tetapi tanyakan juga bagaimana perasaan mereka, apa yang sedang mereka hadapi dan apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka," ujarnya.

 

 Benyamin juga mengingatkan para remaja agar menggunakan media sosial secara bijak, memilih lingkungan pertemanan yang positif dan terus mengembangkan potensi diri. Remaja juga diminta tidak ragu meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya maupun tenaga profesional ketika menghadapi persoalan yang sulit.

 

 Selain kesehatan mental, Benyamin mengajak remaja menjaga kondisi fisik dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, menghindari asap rokok, aktif bergerak, menerapkan pola makan seimbang, cukup beristirahat dan mampu mengelola stres.

 

 Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi menjadi momentum untuk membangun lingkungan yang membuat remaja merasa aman, dihargai dan didengar.

 

 "Semoga kegiatan seminar remaja dengan tema kesehatan mental remaja dapat memberikan manfaat, memperkuat kepedulian kita terhadap generasi muda serta menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan generasi Tangerang Selatan yang sehat, tangguh, berkarakter dan berprestasi," tandasnya

 

 Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menjelaskan, seminar kesehatan mental remaja tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil skrining kesehatan mental dalam program CKG.

 

 Menurut Allin, CKG idak hanya digunakan untuk mendeteksi penyakit fisik. Pemeriksaan tersebut juga mencakup skrining kesehatan mental sehingga kondisi psikologis anak dapat diketahui lebih awal dan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.

 

 "Upaya cek kesehatan gratis yang merupakan program hasil terbaik cepat Presiden, ini merupakan salah satu upaya untuk preventif atau pencegahan terhadap penyakit, sehingga pada saat ada penyakit ini bisa terdeteksi secara awal, dan bisa segera ditindaklanjuti," jelasnya.

 

 Dari skrining tersebut, terdapat sejumlah anak yang masuk kategori depresi dan ansietas. Allin mengatakan, skrining dilakukan menggunakan enam pertanyaan sederhana, dengan tiga pertanyaan berkaitan dengan ansietas dan tiga lainnya untuk melihat indikasi depresi.

 

 Meski sederhana, menurutnya, proses skrining membutuhkan kejujuran dari anak dalam memberikan jawaban. Hasil tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi tenaga kesehatan untuk menentukan langkah pendampingan selanjutnya.

 

 "Jadi memang metode yang sangat sederhana, tapi butuh kejujuran untuk menjawab, sehingga nanti pada hasil screening itulah yang menjadi landasan untuk kita melakukan tindak lanjut terhadap bagaimana menjaga kesehatan mental dari anak-anak ini," katanya.

 

 Allin menegaskan, kesehatan mental dan fisik tidak dapat dipisahkan. Kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi kesehatan fisik, begitu pula sebaliknya.

 

 Ia mencontohkan keluhan fisik seperti sakit maag yang berulang dapat berkaitan dengan kondisi emosional atau tekanan psikologis. Sebaliknya, kurang tidur dan kurang istirahat juga dapat berdampak pada kondisi mental.

 

 "Jadi penting mana sih antara kesehatan mental dan kesehatan fisik, ya dua-duanya memang harus saling terkait," ujarnya.

 

 Menurut Allin, remaja merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian karena berada dalam fase pencarian jati diri. Di sisi lain, mereka merupakan generasi penerus yang harus dipersiapkan dengan kondisi fisik dan mental yang sehat.

 

 "Karena si remaja ini kan satu memang dia masih pada fase mencari jati diri. Kemudian juga yang kedua ya mereka adalah masa depan bangsa dan negara ini yang tentunya harus kita jaga bersama-sama kesehatan fisik dan mentalnya," tuturnya.

 

 Untuk itu, Dinkes Tangsel melibatkan guru dan pihak sekolah dalam upaya tindak lanjut hasil skrining. Hasil CKG juga telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan sekolah agar pendampingan terhadap anak dapat dilakukan secara bersama-sama.

 

 "Karena kami di kesehatan ini kan men-screening awal, tapi untuk tindakan selanjutnya tentu butuh kolaborasi dari berbagai pihak sekolah," pungkas Allin.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit