TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

BRIN Olah Data Satelit 30 Menit, Deteksi Dini Karhutla Lebih Cepat

Reporter & Editor : AY
Sabtu, 05 September 2026 | 16:48 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat sistem pemantauan titik panas (hotspot) berbasis data satelit untuk mendeteksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak dini.


Melalui sistem tersebut, data satelit dapat diolah menjadi informasi titik panas dalam waktu sekitar 30 menit. Kecepatan ini diharapkan mampu membantu petugas melakukan respons lebih cepat sebelum kebakaran meluas.


Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi BRIN, Andy, mengatakan sistem tersebut dikembangkan untuk memantau wilayah Indonesia yang sangat luas dan sulit dijangkau secara manual, terutama kawasan terpencil.


“Sistem deteksi dini ini memungkinkan kita mengetahui sedini mungkin adanya kebakaran di suatu wilayah di Indonesia,” kata Andy dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).


Andy menjelaskan, sistem hotspot BRIN bekerja berdasarkan prinsip fisika radiasi elektromagnetik. Setiap objek di permukaan bumi memancarkan radiasi termal sesuai dengan suhunya.
Saat terjadi kebakaran, muncul anomali suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan lingkungan di sekitarnya. Kondisi tersebut kemudian dapat ditangkap oleh sensor satelit.


“Temperatur kebakaran diperkirakan sekitar 1.000 Kelvin sehingga dapat dideteksi dengan baik pada panjang gelombang sekitar 4 mikrometer,” ujarnya.


Saat ini, data utama sistem hotspot BRIN berasal dari sensor VIIRS yang terpasang pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20.


Sensor tersebut menggantikan MODIS pada satelit Terra dan Aqua yang sebelumnya digunakan selama lebih dari 20 tahun. Seiring berjalannya waktu, akurasi deteksi MODIS mengalami penurunan sehingga tidak lagi menjadi sumber utama dalam sistem yang digunakan BRIN saat ini.


Data yang diterima stasiun bumi kemudian dikirim ke pusat pengolahan Cloud BRIN untuk diproses menjadi informasi titik panas.


Sebelum ditampilkan pada dasbor, data tersebut terlebih dahulu melalui proses penyaringan guna mengurangi kemungkinan kesalahan deteksi. Penyaringan antara lain dilakukan terhadap sumber panas yang berasal dari aktivitas industri, pertambangan batu bara, maupun kawah gunung berapi.


“Waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses ini sekitar 30 menit. Durasi tersebut bergantung pada kecepatan transfer data dari stasiun bumi ke Cloud BRIN,” jelas Andy.
Menurut dia, jumlah titik hotspot di Indonesia dalam satu hari dapat mencapai ribuan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.


Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemantauan yang mampu memberikan informasi secara cepat. Terlebih, asap akibat karhutla dapat menyebar dalam wilayah yang luas hingga berpotensi berdampak ke negara-negara tetangga.


Untuk membantu menentukan lokasi yang perlu segera diverifikasi di lapangan, sistem BRIN dilengkapi indikator tingkat kepercayaan (confidence level) serta radius kemungkinan hasil pengelompokan titik panas (clustering).


Semakin besar radius tersebut, semakin luas pula indikasi area yang terbakar.
Informasi hotspot BRIN saat ini telah dimanfaatkan sejumlah instansi, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian di wilayah Sumatera dan Kalimantan, Polri, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai wali data.


Andy mengatakan pola munculnya karhutla berbeda di setiap wilayah.
Di Sumatera bagian utara dan tengah, peningkatan titik hotspot umumnya terjadi pada Januari–Februari dan Juni. Sementara di Sumatera bagian selatan, puncak hotspot biasanya terjadi sekitar September.


Adapun di Kalimantan, kebakaran umumnya mencapai puncaknya pada musim kemarau, sekitar Juli–Oktober. Kondisi tersebut berkaitan dengan semakin keringnya lahan gambut.


Andy menegaskan, fungsi sistem hotspot BRIN bukan sekadar mencatat lokasi kebakaran yang sudah terjadi. Yang lebih penting adalah memperpendek jarak waktu antara munculnya indikasi kebakaran dan penanganan di lapangan.


“Hotspot tidak hanya dilihat sebagai catatan setelah kebakaran terjadi. Sistem ini dapat memperpendek waktu antara munculnya kebakaran dan respons cepat penanganannya,” tuturnya.


Ke depan, BRIN terus mengembangkan sistem tersebut. Pengembangan dilakukan antara lain melalui penjajakan pemanfaatan data satelit NOAA-21, penguatan stasiun bumi cadangan di Rancabungur sebagai penopang stasiun utama di Parepare, serta penyempurnaan metode penyaringan berbasis data historis.


Langkah tersebut diharapkan semakin meningkatkan akurasi deteksi sekaligus memperkuat upaya mitigasi dan penanganan karhutla di Indonesia.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit